Kamis, 25 Oktober 2012

Cerpen Burung Kertas Ketulusan



            Hasan Al-Hakimi. Ya.. nama itu yang yang malam itu terlintas dalam benakku. Entah mengapa nama itu selau muncul dalam tangisku. Nama seorang mantan kekasih di bangku SMP setahun yang lalu.
            Memang kisah cintaku tak seindah kisah cinta teman-temanku. Tapi cintaku lebih indah dari cinta teman-temanku, mengapa? Karena aku dapat dikategorikan cewek setia,terlalu setia malah. Sebab aku orangnya nggak mudah jatuh cinta, sekali bilang ya bisa berarti itu selamanya.
            Malam ini nama Hasan Al-Hakimi benar-benar merasuk dalam memori otakku. Gimana enggak, seminggu yang lalu dia SMS aku dan bilang masih sayang padaku. Ya Allah, sunguh bahagianya aku malam itu. Tapi tidak untuk malam ini, nama Hasan Al-Hakimi benar-benar sangat mengganggu karena ternyata dia sekarang sudah punya cewek baru dan yang membuat aku menganga, cewek itu temanku sendiri. Pertama kali dengar kabar tak sedap itu sakit juga sih hatiku dan muncul pertanyaan dalam hatiku, “Lalu apa maksudnya dia bilang masih sayang padaku?”. Ku biarkan pertanyaan itu dalam hati hingga mimpi menghampiriku.
            20 Oktober 2011. Ku awali pagiku dengan senyum yang mengandung berjuta makna. Dalam senyum ku simpan curiga dalam senyumku pula ku simpan sebuah rahasia dan tanda tanya.
“Nisfia!” Sapa Rinta teman sekelasku.
            “Iya Rin. Ada apa?” Jawabku dengan senyum tipis.
            “kamu kenapa tho kok ndak semangat gitu?” Tanya Rinta dengan logat jawanya karena kami asli orang Yogyakarta.
            “Ah..kamu ki, aku semangat kayak gini kok dibilang nggak semangat. Udah cuci muka belum tho kamu?”
            “Haha.. malah ngelucu. Nggak lucu ah.”

            Kemudian aku jalan berdua dengan Rinta menuju kelas kami, X.7 SMA Tunas Bangsa. Baru tiga  bulan aku injakkan kaki di SMA yang aku cita-citakan itu. Selama itu pula aku sudah tak satu gedung sekolah dengan Hasan Al-Hakimi, mantan kekasihku.
            SMA Tunas Bangsa. Di SMA inilah aku memulai lembaran baru untuk melupakan Hasan sekaligus ingin membuka lembaran gerbang masa depanku. Cita-citaku ingin menjadi seorang sastrawan terkenal seperti Chairil Anwar, Taufik Ismail, M.H Khairun Najib dan lain sebagainya.
            Aku memang senang nulis, membuat puisi, cerpen dan karya sastra yang lain. Ya.. walau pengalamanku menulis belum banyak dan tulisanku masih rendah, belum sebagus karya-karya mereka yang sudah terkenal dan pandai duluan daripada aku.hehe. Tapi aku yakin dengan aku banyak-banyak menulis, semakin hari kemampuanku akan semakin meningkat. Penyempurnaan bakat terpendam sambil jalan sajalah. Itu yang selalu aku camkan dalam hatiku.
           
***
            Tringgg.. ponselku berbunyi pertanda sms masuk. Segera ku buka dan aku baca.

            Loading… Opening…
            “Nis,kamu masih cinta ya sama Hasan?”
           
            Serentak aku menganga membaca SMS dari Sandra yang sesuatu banget dan to the point mengajukan pertanyaan itu. Apa maksudnya dia SMS aku kayak gitu,apa dia tahu beberapa hari yang lalu aku sempat SMS’an lagi sama Hasan, tapi kalau dia emang tau kenapa harus tanya seperti  itu. Apa dia tau isi dari semua SMS ku. Banyak pertanyaan yang terlintas dalam batinku ketika membaca SMS Sandra. Segera aku membalas.

            Reply… New text
            “Hah, maksud kamu apa eh?”

            Tak lama kemudian hanya berselang beberapa menit sudah ada balasan dari Sandra. Akhirnya menjadi pembicaraan panjang di HP ku.
           
Sandra    : “Nggak usah sok nggak tau deh,ngaku ja deh loe! Dasar cewek gathel!”
Me          : “Mulut kamu itu lho,kalo ngomong pake etika dong! Aku kan nggak tau apa sebabnya kamu nanya itu ke aku? Emang penting ya pertanyaanmu itu?”
Sandra    : ”Beberapa hari ini loe sms’an kan sama Hasan. Terus maksud loe kirim surat buat Hasan atas kemenangan lomba olimpiadenya tu apa? Nggak bisa apa lewat sms? Kalo kayak gitu  kan sesuatu banget!”

Sempat hatiku ini sakit karena omongan Sandra, tapi aku berusaha untuk tidak memasukkannya dalam hati. Karena ku akui aku memang menulis surat itu, tapi kan hanya sekedar untuk memberi dia selamat. Apa salahnya coba. Sebagai teman fine-fine aja dong. Emang sih tepatnya Hasan itu mantan pacar aku, tapi nggak salah kan kalau cuma ngasih surat doang, soalnya kalau aku sms juga dia tukeran nomer sama Sandra.
Akhirnya ku putuskan untuk tidak membalas sms Sandra karena aku takut masalah ini akan membani pikiranku. Aku coba untuk sms Hasan lebih dulu.

“Hasan, kamu cerita ya sama Sandra masalah surat itu ?”

Kira-kira lima menit setelah ada laporan bahwa smsku terkirim Hasan membalas sms ku.

Hasan  : “orangnya sms kamu ya?”
Me       : “Iya,puas kamu sekarang!”
Hasan  : ”Astaghfirullah mbak, maksud aku tu nggak kayak gitu L aku cuma berusaha terbuka aja sama dia, soalnya dia juga terbuka banget kalo sama aku. Maaf mbak maksud aku nggak gitu L sumpaah”
Me       : “nggak usah pake emotion sedih kalo kamu bahagia, cowok tu emang kayak gitu. Manis mulutnya. Bodoh ya kemarin2 aku percaya semua omonganmu. Sok manis! Pake bilang masih sayang segala lagi.. shittt!!!”
Hasan  ; “aku serius mbak,tapi mungkin maafku kali ini nggak ada artinya dan kamu udah nggak percaya lagi sama aku . Tapi aku mohon kali ini aja maafin aku. Aku bener2 nggak bahagia dengan kejadian malam ini.”

Malam ini hanya terjadi cek-cok yang hebat antara aku dan Hasan. Aku kecewa banget sama dia. Untuk ke dua kalinya Hasan membuat aku kecewa. Padahal dia dulu pernah janji nggak akan ngecewain aku dan dia nyesel pernah membuat kecewa aku. Tapi itu hanya perkataan manis mulut seorang lelaki. Tak tahan dengan semua ini akhirnya ku putuskan untuk menceritakan apa yang aku alami kepada kakak ku yang berada di Singapore.
            Tuut..tutt..tutt.. panggilanku berhasil nyambung ke nomor kakakku, namun tak kunjung ada jawaban dari dia. Ahh…mungkin dia sedang sibuk. Kurang kerjaan banget malam-malam gini aku telepon kakakku. Akhirnya aku mengakhiri telepon yang menghubungkan aku dengan kakakku.
Aku memutuskan untuk tidur daripada harus berlarut-larut dalam masalah ini. Aku tidur meninggalkan dua pesan dari Sandra dan Hasan yang belum aku balas karena aku sudah terlanjur sakit hati dan kecewa oleh mereka berdua. Aku berniat membalas sms itu besok pagi.
Baru saja aku membuka selimut dan siap untuk berangkat menuju pulau mimpi. Tiba-tiba HP ku berbunyi pertanda bahwa ada pesan masuk, tapi aku tak ada hasrat untuk membukanya karena hari ini aku sudah amat sangat capek sekali. Baik pikiran, badan maupun hati. “Mungkin akan ku baca besok”, gunamku dalam hati.
Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Jam menunjukan pukul 05.45 segeralah aku sholat shubuh dan mandi. Untung tadi malam semua jadwal hari ini sudah aku siapkan kecuali ulangan. Yaa.. hari ini ada ulangan biologi dan aku belum belajar. Ini semua gara-gara tadi malam, pagiku jadi berantakan. Sial!
“Astaghfirullah hari ini ada ulangan biologi, mana aku belum belajar maksimal lagi. Ya Allah bagaimana ini? Semoga belajarku kemarin-kemarin masih melekat diingatanku. Amin”

***
Akhirnya, “Alhamdulillah,ulanganku lancar walau aku belajarnya belum maksimal.” Gunamku dalam hati.
Hari ini bapak ibu guru ada rapat mendadak mengenai persiapan ulangan akhir semester dan kami pun dipersilahkan untuk belajar di rumah. Tuing…terlintas pertanyaan dalam hatiku, “kalau pulang pagi gini siapa yang mau jemput?”
“Ahaa.. aku suruh Zahra aja jemput aku. Tapi dimana HP ku ? Ya ampun aku nggak bawa HP lalu bagaimana aku bias suruh Zahra jemput aku kalau HP ku tertinggal?”
Akhirnya aku putuskan untuk pulang jalan kaki. Ditengah perjalanan aku melihat sosok Hasan,tapi aku ragu apakah itu Hasan ? “Emang gue pikirin. Walau dia Hasan juga nggak ngaruh sama gue.” Ucap ku perlahan.
Setelah lama aku perhatikan memang benar orang diseberang jalan iu adalah Hasan. Hari ini memang hari burukku, tadi ulangan biologi belum belajar, HP ketinggalan, pulang jalan kaki dan dijalan bertemu Hasan yang sedang bermesraan sama Sandra. Hatiku sakit melihat pemadangan itu, tapi apa boleh buat dewi cinta tak berpihak kepadaku dan tak  menjodohkan aku dengan Hasan, so aku harus relakan Hasan.
Aku berjalan dengan santainya tanpa melihat kearah mereka berdua. Setelah aku berada didepan mereka aku segera mempercepat langkahku dan tak menghiraukan apa yang mereka perbuat diseberang sana.
Sesaat setelah aku sampai di rumah segera aku menuju kamar dan membuka message. “Haa ada 10 pesan masuk?” teriakku perlahan. Ada 10 pesan masuk dan salah satunya dari Hasan.

Hasan:“Nis,  aku mau minta doa. Besok Rabu aku ikut lomba nasyid tingkat kabupaten.” J
 




Kiriman pesan bak orang tak punya dosa. Dasar! Ku putuskan untuk tak membalas message dari dia.

***
Malam senin. Seperti biasanya aku berangkat ngaji di pondok pesantren dekat rumahku. Malam ini tak banyak yang berangkat ngaji hanya aku dan Naini yang berasal dari luar pondok, ah mungkin sedang haid bersama pikirku.
Setelah selesai ngaji aku berfikir untuk mengajak Naini ke rumah Ita,tetangga Hasan. Seperti yang telah aku duga, Naini mau menemaniku ke rumah Ita. Sebelum berangkat aku meminjam pulpen dan meminta selembar kertas pada Ifah yang kebetulan rumahnya dekat pondok tempatku mengaji. Dalam kertas itu berisi
Surat kecil untuk kamu



Semangat ya buat lombanya besok :)
Dari aku

 










Setibanya di rumah Ita segera aku menyuruh dia memberikan surat itu untuk Hasan sama seperti aku menyuruh Ita untuk memberikan surat ucapan selamat atas kemenangan olimpiadenya. Hatiku deg-degan,hatiku cemas, takut jika Sandra akan salah paham soal hal ini lagi,sebenarnya cukup dengan aku sms untuk mendoakannya tapi sayangnya aku sedang nggak ada pulsa. Ah sudahlah niatku baik kok,pasti Allah akan memudahkan jalanku,hiburku dalam hati.
Sepuluh menit sudah aku menunggu Ita kembali dari rumah Hasan. Aku mulai panik hari semakin malam tetapi Ita dengan santaiya berlama-lama di rumah Hasan. Mungkin balasan Hasan terlalu panjang sehingga memakan waku yang lama untuk Ita menunggu disana.
Disaat aku mulai bosan akhirnya Ita berjalan ke arahku sembari senyam-senyum,aku tak tahu apa yang ia sembunyikan dibelakang punggungnya. Aha pasti balasan dari Hasan,duh jadi deg-degan,aku pun ikut tersenyum.

Tiba-tiba dari kejauhan Hasan berteriak “Itu ucapan terimakasih dari saya.”

Seketika Ita menyodorkan sebuah burung kertas. Hah apa maksud semua ini kenapa malah burungkertas,kenapa bukan selembar kertas balasan suratku. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam otakku saat melihat burung kertas yang dibawa Ita.

“Ini ucapan terimakasih dari Hasan Nis.” Ucap Ita tersenym.
“Hah,burung kertas ini balasan suratku?”
“Lebih tepatnya ucapan terimakasih karena kamu telah menyuport Hasan. dia ga tau harus mengucapkannya bagaimana,bahkan tak tahu harus bagaimana menulisnya. Akhirnya dia membuatkanmu burung kertas ini.” Jelas Ita

Diperjalanan pulang aku hanya nyengar-nyengir bak orang gila kabur dari RSJ. Tapi memang itulah yang terjadi,Hasan selalu berhasil membuat aku bahagia dengan apa yang ia lakukan. Dan malam ini ku tutup hariku dengan sebuah burung kertas ketulusan.