Rabu, 19 November 2014

Sajak "Peka vs GR"



Dalam kita saling suka
Ada dua si kembar yang serupa
Ya.. serupa tapi tak sama
Si kembar itu adalah si Peka dan si GR

Si kembar ibarat bawang merah dan bawang putih
Tokoh dalam dongeng
Dimana yang satu baik
Dan satunya buruk

Si kembar yang namanya peka
Adalah kembar baik ibarat bawang putih
Si peka itu selalu mengerti
Dia juga selalu tahu posisi
Kapan harus diam dan kapan harus berjalan
Dia juga perhatian

Hey tapi jika si peka itu kelewatan
Bisa-bisa jadi GR
Si kembar yang namanya GR ini buruk
Kayak bawang merah kalau di dongeng

Si GR ini bukannya selalu mengerti
Tapi selalu merasa dimengerti
Dia juga bukannya selalu tahu posisi
Tapi selalu memprediksi sesuka hati
Ketika harusnya diam dia malah berjalan
Dia juga tak perhatian
Tapi selalu merasa diperhatikan

Aku beritahu ya
Buat dua orang yang lagi saling suka
Jangan suka ke-GR-an
Karna boleh jadi yang kalian prediksikan tidak sejalan
Jangan terlalu peka
Karna jika terlalu, maka peka akan jadi GR

Senin, 17 November 2014

Sajak "Semua itu Baik"

Semua laki-laki itu baik.
Sayangnya baik di sini masih bisa dispesifikasikan.
Laki-laki itu baik untuk menjadi teman
Laki-laki itu baik untuk dijadikan sahabat
Laki-laki itu baik untuk dijadikan teman sekaligus lawan
Laki-laki itu hanya baik sebagai teman dekat sekali.Apa? Pacar? mungkin demikian
Ataukah laki-laki itu baik sebagai teman hidup,

seorang imam dan pemimpin maghligai rumah tangga?

Pun dengan wanita
Semua wanita itu baik
Sayangnya baik disini juga masih umum
Masih bisa dispesifikasikan
Wanita itu baik untuk menjadi teman
Wanita itu baik untuk dijadikan sahabat
Wanita itu baik untuk dijadikan teman sekaligus lawan
Wanita itu hanya baik sebagai teman dekat sekali. Apa? Pacar? Mungkin juga demikian
Ataukah wanita itu baik sebagai teman hidup,
seorang pendamping dan guru untuk anak-anaknya?

Semuanya itu benar-benar baik
Tinggal bagaimana kita menafsirkan kata baik
Jadilah baik menurut penafsiran yang kalian suka

Minggu, 26 Oktober 2014

Sebuah pernikahan itu....

Sebuah pernikahan yang didasarkan karena Allah akan lebih awet daripada pernikahan yang didasarkan karena cinta.

Berceceran contohnya. Tengoklah kakek nenek kita, orang tua kita yang menikahnya tidak didasarkan karena cinta dalam tanda kutip, melainkan didasarkan atas ibadah dan menjalankan sunah Rasul, justru usia pernikahannya awet sampai nenek kakek
 

Sebaliknya tengoklah layar televisi. Berapa banyak publik figur yang menikah karena cinta sebentar lagi juga akan ada pemberitaan perceraian.
 

Cinta itu bonus yang akan didapatkan setelah pernikahan. Bukankah doa semoga menjadi Sakinah Mawaddah Warahmah didapatkan setelah ijab berlangsung?
 

Jangan kuatir cinta itu pudar, karena sungguh ketika kita telah meniatkan menikah karena yang Maha Cinta, Allah. cinta itu akan tetap ada. Boleh jadi cinta itu melewati pelabuhan yang namanya bosan. Tapi bosan itu akan segera sirna ketika kita mengingat kembali untuk siapa kita bersatu, karena siapa kita bersatu dan siapakah cinta sejati kita:) 

Versi Uswatun Hasanah yang masih berusia 18tahun, Mahasiswa S-1 Pendidikan Kimia 2014.

Selasa, 14 Oktober 2014

Sajak "Gelas Kaca"

Kau tahu Dek gelas disana itu terbuat dari apa
Plastik? Bukan Dek, itu bukan plastik
Gelas disana itu terbuat dari kaca
Yang jika jatuh maka hancurlah sudah

Kau tahu Dek jika gelas itu hancur lantas bagaimana
Kacanya berkeping-keping menjadi banyak bagian
Tak dapat kembali utuh
Sempurna seperti sediakala

Kau tahu Dek, kepercayaan itu ibarat gelas kaca
Yang jika pecah hancurlah sudah
Berkeping-keping tak dapat kembali utuh sempurna

Maka dari itu Dek, jika kepercayaan itu sudah kau genggam
Maka jangan kau lepaskan
Atau kau akan kehilangan
Dan merasakan betapa susahnya mendapatkan kepercayaan

Kamis, 09 Oktober 2014

Angka 20

Happy 20th Birthday ^^
Ciee angka 20 itu sama kayak angka lahirku ciee :D

Jumat, 22 Agustus 2014

Puisi "Kenangan"

Ingatkah kau pada sebuah kenangan?
Jika tak ingat mari ku ajak kau ke belakang sebentar
Hanya untuk menengok
Bukan untuk mengulang

Sttss.. Jangan takut
Tak kan ada yang tahu
Karna ini hanya kita berdua dan Yang Maha Tahu yang mengetahuinya

Ingatkah kau pada sebuah buku kenangan
Mungkin buku tentang perasaan?
Aku sebut ini buku "Our Love Story"

Dalam buku tersebut banyak sekali tulisan
Ingatkah? Masih belum?

Mari kembali tengok lebih ke belakang
Jika ingatanmu tak mengingatkan mungkin hatimu bisa merasakan
Atau jika hatimu sudah tak lagi merasa
Tanganmu akan mulai bergetar
Sebab tanganmu itulah pelaku dari kenangan ini

Duhai kenangan.
Jika ingatan, hati dan tanganmu tak merasakan tak apa
Jika mulutmu tak bergeming juga tak masalah
Dalam kenangan selalu ada bukti
Bukti bahwa harapan itu pernah ada
Bukti bahwa kepastian itu tak pernah ada

Kepastian itu benar-benar tidak pernah ada?
Boleh aku ralat kalimatku barusan?
Bukan kepastian itu tak pernah ada
Kini aku menemukan kepastian itu
Ya.. kepastian kalau kenangan tetaplah kenangan

Selamat tinggal kenangan
Selamat tinggal perasaan
Selamat tinggal harapan
Selamat tinggal perasaan..

Kini our love story telah tamat
Bukan lagi bersambung
Jika kau ingin kembali datang
Mungkin yang kau temui kelak adalah 'rumah ini sudah kosong'
Sudah pindah entah kemana
Terimakasih sudah sempat singgah di sini
Tapi maaf 'rumah' ini bukan tempat kau kembali...

Rabu, 23 Juli 2014

Keikhlasan

Untuk siapapun yang ada di dunia ini, yang sudah memberi rasa, apapun rasa itu, tidak akan ada guna, tidak akan mencapai puncak kebahagiaan, tidak akan bisa mendapat hasil dari rasa yang diberikan kepada apapun rasa itu kecuali sadar dan benar-benar mengetahui sebuah "keikhlasan".

Apalah arti bakti dan cinta kita kepada Allah jika kita tidak ikhlas menjalankan perintahNya, apalah arti kepedulian kepada yang membutuhkan tanpa rasa ikhlas untuk memberi, begitu juga cinta kasih terhadap sesama, tak akan berarti tanpa keikhlasan, ikhlas tanpa mengharap apapun, itulah suatu rasa yang paling tinggi di jagad raya ini. "KEIKHLASAN"
*Janu Ahmad Rifangga

Lapang dada itu bentuknya sempurna bundar. Bukan lonjong, apalagi gompal. Sekali dia penyok, masih ngedumel, masih nyinyir, tidak terima, itu bukan lapang dada.

Ihkhas itu bentuknya sempurna jernih. Bukan kelabu, kusam, apalagi berwarna-warni. Sekali dia berkabut, masih kesal, masih kecewa, tidak terima, itu bukan ikhlas.

Kabar baiknya, hanya kita sendiri yang tahu apakah kita lapang dada dan ikhlas. Kalimat bisa tipu2, ekspresi wajah bisa direkayasa, tulisan bisa palsu, tapi kedamaian hati, hanya kita yang tahu. Damai dan tenteram hanyalah milik orang2 yang lapang dada dan ikhlas.
*Darwis Tere Liye

Ikhlas itu urusan kita kepada Tuhan Allah swt. Sehebat dan sepintar siapapun manusia di dunia ini tak kan mampu menciptakan parameter sebuah perasaan yang satu ini. Mungkin manusia mampu membuat parameter perasaan lain seperti marah misalnya? ketika orang itu berkata kotor, membanting apapun yang ada disekitarnya bisa dikatakan orang itu sedang marah bukan?

Ketika orang itu mau melakukan apapun, mengerjakan apa saja yang ia bisa kerjakan, mengabdi kepada atasan kita, majikan, bahkan pemerintah kita, itu belum dapat dikategorikan ikhlas. Karena boleh jadi orang yang melakukan itu semua untuk mendapat apresiasi "Good Job" dari atasan, majikan dsbnya. Boleh jadi orang itu mengabdi kepada pemerintah setempat karena ingin mendapat "imbalan" atau "gaji" yang setimpal bukan?

Ikhlas itu hanya kita dan Allah yang tahu. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, kerjakan selagi kita bisa mengerjakan, bersabar selagi sabar itu masih menjadi perintah, bukan larangan. Selebihnya kita serahkan saja kepada Yang Di Atas.
*Uswatun Hasanah