Kamis, 25 Oktober 2012

Tragis (cerpen)


Piarrr .. terdengar suara kaca pecah dari kamar Burhan malam itu. Tak seorang pun mengetahui apa yang dilakukan Burhan ataupun apa yang terjadi di kamarnya. Mendengar suara itu Linda, kakak Burhan terbangun.
“Tengah malam gini Burhan masih aja bikin suara, hoaammmm.. dasar!” Gunam Linda sambil berjalan menuju kamar Burhan.
Sesampainya di kamar Burhan, Linda terkejut. Ternyata ada maling di kamar adiknya. Linda berteriak dengan kerasnya sampai terdengar sealam semesta satu RT-nya “Maliiinnngggggg !!!!!!”
Sang maling pun kebingungan karena ketahuan.. “o..oo kami ketahuan.”
Beroww,gimana nih kita ketahuan. Bisa mati dikepung warga  kita.” Kata maling 1.
“Santaaaii, kan kita ada doa emak.” Jawab maling 2.
“Doa emak pale lu peyang. Kita tadikan nggak minta doa restu emak waktu mau maling?” maling 1. Ganti!.
“Oh.. iya ya.. ya udah kita pulang, terus minta doa restu dulu, biar bisa selamat.” Maling 2. Ganti!.
“Kamu punya otak nggak sih, apa udah kamu rongsokin?” maling 1. Ganti!.
“Emang ada tukang rongsok otak?” maling 2. Ganti!.
Dodol..!!  ya udah kita cabut sebelum warga datang dan menghabisi kita.” Maling 2. Ganti! Cukup.
Karena asyik ngobrol berdua, (eeuugghh so sweet hehe) kedua maling itu tak sadar jika mereka sudah dikepung warga dan warga menertawakan mereka “Hahahahahaha dasar maling oon
Akhirnya maling itu dibawa keluar dan dilaporkan ke pihak yang berwajib yakni polisi.
Esok harinya saat Linda ingin berangkat sekolah, ia ngomel-ngomel kepada adiknya karena laptopnya hilang.
“Han,laptopku mana? Nanti mau aku pake kuliah.” Teriak Linda dari kamar.
“Mana gue tau.” Jawab Burhan cuek.
“Kemarin kamu kan yang terakhir pakai,”
“Diambil maling tadi malam mungkin kak.”
“Ohh.. no .. mana banyak file penting lagi di dalamnya.”
“Tapi kayaknya ada di meja kakak deh sekarang.”
“Oh iya.. ada, hehe. Lupa naruh.” Ucap Linda tersenyum malu.
Karena mereka hanya tinggal berdua di Jogja untuk kepentingan belajar, sedangkan ibu dan ayahnya di Sumatra berisik di waktu pagi, sore, malam sampai pagi lagi sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Setiap pagi ngributin kamar mandi, pulang sekolah ngributin makan, malam ngributin TV. Pokoknya tempat kos mereka nggak pernah sepi.
“Asalamualaikum!” Ucap Budi sambil meletakkan sepatu di rak.
“Waalaikumsalam.” Jawab kakaknya
“Oh ya kak, tadi budhe telepon katanya nenek meninggal,”
“Inalilahi wa inilaihi rojiun. Kapan Han?”
“Tadi pagi Kak, katanya.”
“Ya udah nanti sore  take off  ke Sumatra dan pulang besok pagi, sekalian jenguk ayah ibu di sana, bagaimna kabar mereka.”
“Oke kak.”
Sorenya Linda dan Burhan berangkat ke bandara untuk terbang ke Sumatra. Sebelum sampai ke bandara kebiasaan merek omel-omelan pun tak ketinggalan. Kini gantian Burhan yang mengomeli kakaknya.
“Kak, iPad aku mana? Tadi udah aku masukin ke tas kok sekarang nggak ada, kakak ambil ya?”
“Sembarangan ! jelas-jelas dari tadi tangan kakak di hadapan kamu kan, masak iya kakak ambil. Kurang kerjaan banget.”
“Ya siapa tau, kan kakak biasanya jail sama aku.”
“Dari pada ngomel mulu, mending kamu cari dengan tenang. Kayak suaramu tu bagus aja dari tadi ngomel.”
Tak berapa lama kemudian terdengar suara “Mohon perhatian. Bagi penumpang  tujuan Jakarta harap bersiap-siap karena sebentar lagi pesawat akan segera diberangkatkan.”
Linda dan Burhan pun bergegas. Beberapa menit kemudian, kira-kira 15 menit mereka sampai sampai di Jakarta. Kemudian berangkat menuju ke Sumatra. Dalam perjalanan Linda tersenyum melihat adiknya tidur nyenyak, “Dek, kakak tu sayang banget sama adik, terkadang jika adik belum pulang rumah sepi, saat adik maen kakak pun kesepian, terkadang sehari tak bertengkar rasanya kangen. Satu omelan dai kakak menunjukan betapa sayangnya kakak sama adik.” Kata Linda dalam hati, kemudian kening mencium adik kesayangannya .
Kemudian Burhan terbangun.
“Kak, kenapa nangis?” Tanya Burhan
“Oh enggak kok, tadi kakak kelilipan.”
“Ahh bohong ah.. masak sih?” Rayu Buhan dengan senyumannya.
“Stsss.. merayu deh ah kamu ki. Haha” Balasan rayuan Linda kepada adiknya sambil tertawa.
Mereka asik bercanda bersama dan tidak menyadari bahwa pesawat yang mereka tumpangi mengalami kendala.
 “Kak, kenapa ini kak?”
“Kakak juga nggak tau dek.”
“Aaaaaaaaaaaaaaa….” Teriak para penumpang
Ternyata pesawat yang mereka tumpangi oleng dan jatuh di tengah hutan. Beruntung nyawa Linda terselamatkan, nmun tidak muntuk adiknya. Burhan harus pergi mendahului kakaknya.
“Mungkin tadi adalah kecupan terakhir untuk adikku dan memang untuk terakhir. Tawa bersama tak lagi dapat ku rasakan, tawa tadi merupakan tawa perpisahan. Selamat jalan Burhan semoga kau bahagia disana. Kakak sayang padamu.” Kata Linda dalam hati sambil meneteskan air mata.


Tetap Kamu (puisi)


Setahun yang lalu
Kau telah melepasku
Namun mengapa
Saat ini aku masih merindu

Sampai akhirnya ku temukan
Disini aku temukan sebuah senyuman
Yang membawa kebahagiaan

Namun satu yang harus kamu tahu
Senyuman itu selalu membawa bayangmu
Dan selalu ku simpan rindu saat itu
Walau akhirnya bibirku berdusta
Ku berkata suka senyuman itu

Kini semua orang terlanjur bilang
Aku suka dia, padahal sebenarnya
Bayangan senyuman itu yang aku suka

Biarlah orang berkata
Aku suka dia
Dan bibirku tetap berdusta
Tapi hatiku tak bisu
Hatiku tahu jika tetap kamu
Yang selalu aku rindu
***

Ratapan Bumi (puisi)




Memandang lautan lepas
Membuatku ingin bebas
Bebaskan diri dari rasa panas
                                               
Bayangan bumi berkata terlintas
“Manusia biadab sungguh tak pantas
Untuk menangis dan menangis
Atas perbuatan mereka yang bengis”

Tak hanya bumi yang berkata
Aku pun angkat bicara
Sampai berapa lama
Bumi dan kita akan menderita

Sungai menjadi tempat sampah
Hutan tak lagi rindang
Haruskah bumi menangis
Untuk sadarkan insane manusia

Mungkinkah anak cucu kita
Menikmati indahnya surge dunia
Entahlah!!

                                               


Dear Mamak (ibu, bunda, mama, mami, sama ajalah :) )


            Mamak. Kata itu adalah panggilan sayangku untuk seorang ibu yang telah mengasuhku dari aku lahir sampai kini aku berusia 15th.
            1994, mamakku menemukan cinta sejatinya yaitu bapakku. Kebahagiaan mamakku nggak Cuma sampai itu saja. Tepat pada bulan Oktober mamak dan bapak menikah dan sampai saat ini masih bersama dan hidup bahagia.
            Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Dan putra-putra bapak mamak semuanya pemalu termasuk aku. Pemalu disini dalam artian untuk mengungkapkan rasa sayang antara aku dengan adikku, adikku dengan aku, aku dengan mamakku, aku dengan bapakku, adik dengan aku, dan adik dengan ayah.
            Dalam keluargaku memang jarang terdengar ucapan ‘aku sayang kamu, Nak’ ‘aku sayang kamu, Mak’ ataupun ‘aku cinta kamu’. Namun, pengapresiasiasi rasa sayang lebih terlihat dari tindakan bukan sekedar perkataan.
            28 September 2011 lalu, aku mencoba menulis surat dan sepenggal puisi untuk mamakku.





28 September 2011
Andai Mama Tahu
Andai mama tahu
Aku di sini rindu kan belaianmu
Aku di sini rindu akan pelukmu
Rindu akan kecupanmu di masa kecilku
                                    Ma..jikalau hanya luka yang Uswa beri
                                    Hanya maaf yang bisa aku pinta
                                    Ma..jikalau tangis yang bisa ku buat
                                    Hanya maaf yang bisa ku ucap
Andai mama tahu
Anakmu disini amat merindumu
Anakmu juga menangis tengah malam
Karena ingat dosa kepadamu
                       
                  
 


                                    Ma..apa yang telah mama perbuat
                                    Semua tulus untukku
                                    Apa yang engkau lakukan
                                    Karena sayang kepadaku
Ma..kasihmu tak berujung
Bagai lingkaran penuh
Yang selalu berputar
Terimakasih Mama
                                    Tiadalah semua berguna
                                    Melainkan dengan restu Mama
                                    Doakan Uswa Ma
                                    Supaya kelak menjadi orang yang berguna
                                   
 
 




























Dalam surat itu aku menyampaikan rasa sayang, kerinduan serta ucapan maaf karena aku sebagai anak belum bisa membahagiaan mamak. Dalam surat itu juga aku mengucapkan banyak terimakasih atas doa, bimbingan dan asuhan mamak selama ini.
Mak, ini lanjutan dari surat yang pernah Uswa buat. Surat kedua yang aku  tulis khusus buat Mamak sebagai tanda sayang dan cinta Uswa kepada Mamak.
Mamak adalah segalanya bagi Uswa, walau Mamak nggak tahu seberapa cintanya Uswa kepada Mamak. Mamak adalah peri utusan Allah yang khusus diperuntukkan bagi Uswa. Mamak adalah surga bagi Uswa kelak karena Rosulullah SAW pernah bersabda :”Surga itu di bawah telapak kaki ibu”.
Uswa semakin yakin betapa sayangnya mamak pada Uswa. Ketika surat 28 September yang Uswa berikan untuk Mamak ternyata dibalas dengan penuh cinta dan sayang karena dalam surat itu mamak mengatakan, “Mama tidak meminta apapun dari kamu, Nak. Mama hanya minta jadilah anak yang sholikhah. Amin.” Seketika air mataku tetes ketika membaca balasan surat dari mamak. Betapa tulusnya kasih seorang ibu hingga mereka rela mengorbankan seluruh jiwa raga, harta, nyawa untuk kita tanpa meminta balasan apapun dari kita. Sungguh merasa sangat berdosa ketika aku mengingat kenakalanku kepada Beliau, sosok seorang pahlawan sekaligus peri bagi anak-anaknya.
Tiada kata-kata seindah terimaksih, tiada rasa seindah cinta, tiada ketulusan selain kasih sang Bunda karena sosok bunda adalah cinta kedua setelah cinta kepada Allah SWT. Sedikit kata-kata ini tak cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasihku kepada Mamak mengingat jasa Mamak yang besar melebihi besarnya sang Surya, kasih Mamak yang luas melebihi luasnya samudra. Terimakasih Mak atas ketulusan kasih yang Engkau berikan untukku hingga aku berusia hampir 16th.
Cinta bukan hanya sekedar kata-kata, cinta itu segalanya. Cinta membutuhkan pembuktian, perjuangan, dan tindakan yang menggunakan hati untuk melakukannya. Oleh karenanya surat ini Uswa tulis dengan sepenuh hati khusus untuk Mamak. Besok Uswa akan memetik bintang cita-citaku dan kupersembahkan untuk Mamak sebagai bukti cintaku pada Mamak karena aku sangat mencintai Mamak.
Mak, doakan Uswa agar menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Doakan Uswa agar cita-citaku menjadi seorang dokter terwujud dan jika kelak Uswa sukses akan aku bawa mamak ke Tanah Suci.