Minggu, 19 Mei 2013

Sunrise (Drama)



Subuh di Pondok Pesantren Fadhlun Minallah tak pernah sepi aktivitas. Di kompleks putri hampir seluruh santri bangun sebelum ayam berkokok, namun tidak untuk Tita Adrina Zafira yang merupakan penghuni baru pesantren.

ADEGAN 1

Bantal guling telah tertata di pojok kiri, lima almari pakaian kecil berjajar di kiri kasur yang terlipat  rapi pada kamar dengan luas 4 x 3 meter. Pagi itu terdengar suara seorang santri tengah membangunkan kawan sekamarnya.

Nisfya               : “Tita ! Bangun !! Sudah adzan subuh tuh. Kapan sampeyan (kamu dalam bahasa jawa) bisa bangun tepat waktu dan nggak kena hukum dewan ketertiban pondok. Salat subuh berjamaah tu pahalanya gede banget, ingat nggak to yang dikatakan Ustad Antony kemarin. Bangun Tita !!”
Tita                    : “Hoaammm… Iya bawel ini juga udah melek tapi nyawanya belum ngumpul semua, tunggu sampai malaikat pencabut nyawa ngembalikin nyawanya dulu ya. Sepuluh menit lagi langsung salat subuh wes.”
Nisfya               : “Sampeyan ini, setiap dibangunin selalu kayak gitu alasannya. Nggak kapok apa udah dihukum tiap hari sama Mbak Romlah yang galaknya minta ampun. Nggak kapok sampeyan ! Awas saja kalau nanti dihukum, pokoknya aku nggak mau tahu yang penting kewajibanku untuk mengingatkan teman sudah gugur. Sudah nggak dosa lagi aku.”
Tita                    : “Iya..iya ini sudah bangun Nis…” (berjalan sempoyongan sambil mengulap liur di pipi)
Nisfya               : “Sampeyan ini santri baru di sini. Mbok ya jangan sering-sering bikin kerjaan dewan ketertiban sibuk mengurusi kelakuan sampeyan ini. Kebiasaan molormu di rumah tu mbok ya dihilangkan. Orang tuamu masukin sampeyan ke pondok ini ya pasti karena tingkah lakumu ini dan pasti menginginkan adanya perubahan baik pada anaknya, tapi ini anaknya kok malah tambah ndableg.”
Tita                    : “Sudahlah Nisfya cantik. Tita yang imut mau wudhu dulu terus salat subuh. Kamu duluan aja ya nanti ketingalan jamaahnya dihukum sama mbak galak tahu rasa lho hahahahaha”
Nisfya               : “Lho lho, sampeyan ini kalau dibilangin selalu saja tertawa. Kalau aku ini simbokmu sudah tak jewer sampeyan. Kalau ada yang menasihati tu ya didengerin ! Ya sudah aku ke masjid dulu tapi ingat nanti langsung nyusul ke masjid, awas kalau balik tidur lagi. Kata Mbak Opi bisa pikun kalau habis subuh balik tidur lagi ahihihi.”

Nisfya berjalan menuju masjid sedang Tita berjalan berlawanan arah menuju kamar mandi.

ADEGAN 2

Aula pondok mulai ramai sesudah adzan ‘asar. Beberapa santriwati bergegas menuju aula dengan menenteng Kamus Al-Munawwir, kitab kuning serta bolpoin digenggaman tangan.

Hani                  : “Masya allah Nis, sore ini jadwal sorogan (membaca kitab gundul dihadapan ustad/ah untuk disimak) sama mbak Zakiyah ya? Aku lupa belum ngerjain jatahku. Gimana ya? Apa aku ke POSKETREN (pos kesehatan pesantren) aja ya? Terus nanti kamu bilang Mbak Zakiyah kalau aku sakit. Gimana?”
Nisfya               : “Ndak mau ah Mbak Han, nanti aku yang dosa kalau berbohong sama Mbak Zakiyah. Takut malaikat ‘atidku melaksanakan tugas dan catatan kejelekanku bertambah. Apa sampeyan ndak takut malaikat ‘atidmu bertugas Mbak?”
Hani                  : “Sekali ini aja Nis kamu bantu aku. Aku takut disuruh berdiri di depan terus jatahku minggu depan ditambah. Mbak Zakiyah kan kejam Nis. Kamu tahu kan? Dulu aja ada santriwati dari kompleks Fatimah Az-Zahra yang belum ngerjain jatah sorogannya terus disuruh berdiri di depan dengan kamus munawwir diatas kepala. Bayangin Nis ! Kamus munawwir tu berat banget, untuk mukul maling aja pasti pingsan tu maling.”
Nisfya               : “Apa sampeyan lebih takut sama hukuman dari Mbak Zakiyah dari pada hukuman dari Allah di akhirat mbesok? Bahkan hukuman paling berat di akhirat tu kalau ujung kakimu di letakkan diatas bara api maka mendidihlah kepalamu. Ndak takut kamu Mbak Han? Mbak Zakiyah kayak gitu kan supaya para santrinya disiplin dan bertanggung jawab. Bukankah seharusnya santri yang lain bisa belajar dari hukuman yang pernah terjadi supaya tidak melakukan kesalahan yang sama? Harusnya Mbak Hani yang lebih senior dari saya lebih paham itu.”
Hani                  : “Ugh……..Ehh…….”
Nisfya               : “Kalau Mbak Hani tetap ndak mau mengakui kesalahan dan melarikan diri jangan bawa Nisfya ikut ke neraka dengan disuruh berbohong ya. Afwan, (maaf dalam bahasa arab) Nisfya duluan. Assalamu’alaikum”
Hani                  : “Wa’alaikumsalam…..”

ADEGAN 3

Suasana aula pondok semakin sunyi saat Mbak Zakiyah memasuki aula. Suara santri yang semula sahut-menyahut berlatih membaca sebaris demi sebaris kitab kuning tanpa harakat mulai melirih.

Mbak Zakiyah   : “Assalamu’alaikum...”
Santriwari          : “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Mbak Zakiyah   : “Santriwati semua. Afwan, hari ini Mbak Zakiyah nggak bisa ngajar. Jadwal sorogan diundur minggu depan. Bu Nyai masuk rumah sakit. Sekarang Mbak Zakiyah ada jadwal ngurus ndalem. Afwan nggeh. Assalamu’alaikum”
Santriwati          : “Wa’alaikumsalam…”

Hani tiba-tiba masuk dan duduk di sebelah Nisfya setelah Mbak Zakiyah pergi meninggalkan aula.

Nisfya               : “Mbak Hani jadi berangkat? Udah selesai mengerjakan jatah sorogannya?”
Hani                  : “Belum Nis. Tapi apa yang kamu katakan tadi benar juga. Aku malu sebagai senior satu tahun diatas kamu tapi malah berpikiran begitu dan putus asa dengan hukuman dunia. Maafin aku ya” (tersenyum)
Nisfya               : “Iya mbak, ndak papa namanya juga manusia tempatnya salah dan dosa. Nisfya paham itu sejak kecil Mbak. Dulu almarhumah ibuku sering bilang kayak gitu dan berpesan agar aku tidak seperti manusia pada umumnya dan seminimal mungkin menghindari dosa. Walau tak dapat dipungkiri khilaf itu pasti ada.”
Hani                  : “Eh, afwan jadi keinget ibu kamu ya. Ndak ada maksud aku.”
Nisfya               : “Ndak papa Mbak, sekarang mungkin ibuku sudah bahagia melihat anaknya masuk pesantren. Dulu ibuku punya cita-cita masukin anaknya ke pesantren tapi ayahku selalu ndak setuju. Katanya buat apa masuk pesantren, nanti dikira anaknya bodoh karena tidak bisa masuk sekolah negeri, bapak saya selalu berpikiran seorang anak yang masuk pesantren itu karena nakal atau kalau enggak ya nilainya tidak diterima di sekolah negeri.”
Hani                  : “Masyarakat awam memang selalu berpendapat seperti itu. Banyak yang mengartikan pesantren hanya untuk anak-anak urakan, padahal ndak gitu juga. Eh, tapi kenapa sekarang ayah kamu ngijinin kamu masuk pesantren ini?”
Nisfya               : “Aku juga ndak tahu pasti Mbak kenapa ayahku tiba-tiba mengijinkanku masuk pesantren. Mungkin karena kepergian ibuku ayah jadi sadar bahwa argumen mengenai pesantren yang selama ini ia pegang salah. Eh Mbak aula mulai sepi, balik ke kamar saja yuk.”

Berjalan menuju kamar mereka di kompleks Aisyah. Dalam perjalanan Nisfya melihat Tita berada di tengah lapangan di hadapan mbak Romlah.

Mbak Romlah   : “Sudah berapa kali saya bilang. Kalau santri baru itu, tiap sore ngaji pesholatan sama mbak Ummi. Bukannya makan di dapur umum. Jatah makan semua santri di dapur umum itu sama. Tiga  kali sehari, pagi, siang, malam. Apa buku panduan santri baru yang mbak berikan seminggu yang lalu tidak cukup jelas? Sekarang hukuman harus kamu terima. Push-up 20 kali. Cepat !”
Tita                    : “Tapi, siang tadi saya belum makan mbak. Lagi pula tadi setelah makan niatnya juga berangkat ngaji pesholatan. Nih kalo nggak percaya kitabnya saja sudah bawa !” (menyodorkan kitab kepada mbak Romlah).
Mbak Romlah   : “Jangan banyak alasan ! Push-up !”
Tita                    : “Fiuuuhh..sialan (mengumpat dalam hati dan segera mengambil posisi push-up)”
Mbak Romlah   : “Mulai ! Satu ! Dua ! ……”

Dengan penuh keberanian Nisfya berjalan mendekati Mbak Romlah.

Nisfya               : “Assalamu’alaikum Mbak.”
Mbak Romlah   : “Wa’alaikumsalam. Eh kamu Nisfya ya? Yang kemarin menang lomba baca kitab gundul waktu milad (hari lahir) pondok?”
Nisfya               : “Na’am (ya dalam bahasa arab). Ada waktu sebentar ndak Mbak? Ada yang mau saya bicarakan.”
Mbak Romlah   : “Soal apa ya? Bicarakan saja monggo (silahkan dalam bahasa jawa). (menatap tajam kea rah Tita) Kamu Tita, tetap lanjutkan push-up sampai genap 20 kali !”
Nisfya               : “Di kolam ikan dekat kompleks Fatimah ya Mbak bicaranya. Biar dapat inspirasi hehe.”
Mbak Romlah   : “Ndak bisa dibicarakan disini saja? Lha ini siapa yang bakal mengawasi Tita kalau saya kamu ajak bicaranya di kolam ikan?”
Nisfya               : “Sampeyan percaya saja mbak sama saya. Tita ini jujur, nggak wes kalau dia mengurangi jumlah hitugannya hehe. Mari Mbak.”

Berjalan menuju kolam ikan.

ADEGAN 4

Temaram senja di dekat kolam. Terlihat dua orang berbincang dengan asyiknya. Nisfya Aqauli Nitaqoin dengan salah seorang anggota dewan keamanan, Nur Romlah Nasihati.

Nisfya               : “Nisfya ada sedikit unek-unek Mbak. Semoga Mbak ndak keberatan mendengarkannya, syukur kalau Mbak mau menanggapinya.”
Mbak Romlah   : “Dengan senang hati mbak akan mendengarkannya. Tapi kenapa harus mbak yang dipercayai menanggapi unek-unek Nisfya? Sedikit aneh, kamu belum kenal mbak, bahkan mbak juga ndak kenal dengan kamu lebih jauh.”
Nisfya               : “Terkadang kepercayaan datangnya dari hati, tanpa harus mengenal seseorang lebih dalam jika hati yakin ya yakin.” (tersenyum meyakinkan)
Mbak Romlah   : “Iya deh iya. Sekarang unek-uneknya apa? Keburu maghrib. Nanti unek-uneknya belum kelar adzannya udah dating. Nggak asyik dong kalau harus bersambung hehe.”
Nisfya               : “Gini lho Mbak, Nisfya mau Tanya, ada nggak sih Mbak seseorang yang tercipta dengan hati baik, tulus, penuh kasih sayang namun harus dilahirkan di lingkungan yang memaksa semua sifat baik dan tulusnya tertutup dengan hati yang sejatinya bukan hatinya. Menjadi hati yang frustasi dan brontak?”
Mbak Romlah   : “Dalam Kitab Arba’in Nawawiwah kalau mbak ndak salah inget. Disebutkan bahwa takdir baik jahatnya seseorang sudah ditentukan. Jika A ditakdirkan menjadi orang baik, ya si A akan menjadi orang baik sampai akhirnya, tapi sebaliknya jika si A ditakdirkan menjadi orang jahat, ya si A akan menjadi orang jahat diakhirnya. Namun hadits ini tidak bisa dipahami apa adanya begitu saja. Allah pun befirman,  Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri merubahnya. Kita bisa mejadikan takdir kita ke golongan takdir orang baik jika kita beusaha supaya takdir itu ya takdir orang baik. Siapa yang tahu? Takdir itu kan rahasia Allah. Kita hanya bisa berusaha, dengan memperdalam ilmu, banyak beribadah, menjadikan majlis ngaji sebagai temat yang sering dikunjungi, mempertebal iman. Iya kan?”
Nisfya               : “Nah kalau soal hati yang brontak tadi Mbak? Orang itu sejatinya baik hati, namun ia dijatuhkan dalam lingkungan yang membuat hatinya brontak?”
Mbak Romlah   : “Seseorang dengan hati baik namun harus brontak karena tuntutan atau lebih tepatnya lingkungannya tidak mendukung. Begitu maksudmu?”
Nisfya               : (Mengangguk)
Mbak Romlah   : “Pertanyaanmu sulit ya Nis, mbak jawab sepengetahuan mbak ya. Mungkin beda hati beda pendapat. Jawaban pertanyaanmu ini relatif Nis. Kalau menurut mbak hal itu mungkin saja terjadi, setiap orang mempunyai nurani dan berhak membrontak jika apa yang ada dihadapannya tidak sesuai dengan nuraninya. Diilustrasikan saja, si A lahir di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman, akhirnya dia terbiasa melawan padahal sejatinya hatinya lelah dengan segala usaha melawan keadaannya itu. Dan kebiasaan itu terbawa kemana-mana bahkan saat ia menemukan lingkungan yang sejatinya baik dan pas.”
Nisfya               : “Hal itu yang terjadi pada Tita Mbak. Nisfya yakin Mbak tahu apa yang tersirat dari pembicaraan ini dan jauh lebih paham apa yang sebaiknya harus dilakukan. Assalamu’alaikum.” (pergi meninggalkan Mbak Romlah)

ADEGAN 5

Ahad subuh, ketika mentari masih malu untuk bersinar. Seluruh santri putri mulai dari kompleks Fatimah hingga Aisyah heboh dengan berita kaburnya seorang santri dari kompleks Aisyah.

Lia                     : “Rif, udah dengar kabar kaburnya santriwati dari kompleks Aisyah belum? Katanya sejak tengah malam tadi tim keamanan udah berusaha ngejar tapi tetep aja tu anak nggak bisa dikejar. Keburu kabur duluan.”
Rifa                   : “Ah masak sih ada yang berani-beraninya kabur dari wilayah penjara surga kayak gini? Peraturannya kan ketat banget. Bisa kena hukuman berat itu kalau tertangkap. Apalagi anggota dewan keamanannya galaknya jos gandhos. Njih to Mbakyu? Emangnya kabur karena opo to? Tahu ndak kamu?”
Lia                     : “Kalau denger-denger sih karena dia nggak tahan dengan semua aktivitas dan kehidupan di pesantren. Apalagi pesantren tempat kita ini, yang ketatnya minta ampun. Dan juga dia masih santri baru di sini, jadi wajar saja to.”
Rifa                   : “Owalah gitu to Mbakyu. Tapi bukankah semua peraturan pondok ini demi kebaikan santrinya ya? Supaya kita bisa jadi lebih baik. Kan tujuan orang tua kita masukin anaknya ke pondok ya supaya anaknya baik dan pintar. Terkadang suatu kebiasaan baik juga perlu pemaksaan. Enggeh to Mbakyu?”
Lia                     : “Betul itu betul. Tapi ndak semua orang mengerti teori pemaksaanmu yang dalam tanda kutip itu. Hanya manusia yang mau berpikir seperti kita ini yang dapat memahami teorimu ahihihihi. Sudahlah ndak baik ngomongin orang terus, ntar jadi menggunjing dapat dosa kita. Berangkat jamaah salat saja yuk keburu suara iqamah Ustad Somad nan merdu berkumandang.”
Rifa                   : “Siap Mbak bos. Eh Mbak tapi aku masih penasaran deh siapa ya kira-kira yang nekat dan cari perkara sama dewan keamanan dengan cara kabur dari pondok seperti itu. Nggak ada cara yang lebih menyeramkan apa ya? Atau jangan-jangan……..”

Tiba-tiba dari kejauhan nampak Muna lari tergopoh-gopoh dengan sajadah tersampir di pundak.

Muna                 : “Li, Rif. Udah denger kabar…..”
Rifa & Lia         : “Sudah mbak Muna biangnya gosip pesantren !! Kabar berita kaburnya santriwati dari kompleks Aisyah tadi malam kan?  Dan tim keamanan pondok gagal mengejarnya?”
Muna                 : “Waah kalian ini sok tahu ! Ketinggalan berita. Santrinya sudah ketangkep lagi. Semalam itu memang dia berhasil lolos melewati gerbang dan berhasil keluar sampai jalan raya, tapi sepertinya Allah tidak memberikan ijin dia untuk kabur. Secara tidak sengaja saat ia sedang menunggu bus di halte ada salah seorang anggota dewan keamanan yang baru aja turun dari bus, kalau ndak salah sih Mbak Romlah yang galaknya minta ampun itu lho dan eng ing eng… tertangkap basah deh tu maling. Eh santri deng hehe. Tapi anehnya denger-denger santrinya itu nggak dihukum berat lho. Ck ck ck (menggeleng). Tapi buat apa aku pikirin, yang penting kesimpulan pelajaran hidup yang saya dapatkan hari ini adalah niat jahat tak akan pernah diridhoi Allah subhanahu wata’ala.” (manggut-manggut)
Rifa                   : “Muna ini, sekali biang gosip ya biang gosip. Berita apa pun dari pondok walau baru sejam yang lalu pasti dia juga tahu. Apa nggak kepanasan kamu Mun tiap hari bawa berita panas melulu hahaha. Untungnya dari semua berita yang kau sampaikan selalu ada kesimpulannya. Pertahankan Nak. Doaku menyertaimu hahaha.” (tertawa lepas)
Lia                     : “Kalian ini. Sudah-sudah jangan banyak tertawa nanti hatimu keras kayak batu baru tau rasa. Itu suara merdu Ustad Somad sudah terdengar. Segera berangkat salat atau mau menjemput ajal tertangkap dewan keamanan. Ayo cepat !”

Mereka segera menuju masjid Al-Uswah Pondok Pesantren Fadhlun Minallah. Jaraknya yang lumayan jauh dari kompleks Fatimah membuat mereka harus berlari-lari kecil dan terengah-engah.

ADEGAN 6

Pondok mendadak sepi ketika libur usai imtihan tiba. Hanya nampak beberapa santri yang tidak memutuskan pulang kampung dan menghabiskan masa liburannya di pondok. Di bawah tiang jemuran terlihat Tita sedang termenung memandang kelabunya langit sore itu.

Tita                    : “Kenapa mesti kehidupan seperti ini yang aku jalani. Kenapa ayah bunda tega memasukkanku dalam penjara yang katanya menyenangkan, mendamaikan, membahagiakan. Ah omong kosong! Aku nggak nyaman dengan peraturan yang memaksa bangun pagi, baca tulisan arab yang nggak ada harakatnya. Dapat jadwal masak tiap minggu, nggak boleh keluar nonton, hang out, ke mall, dan ke panti itu. Ya tuhan gimana kabar anak-anak anak manis dan malang itu. Ah tapi setidaknya mereka sedikit beruntung tidak mempunyai orang tua yang memaksa kebebesan anaknya dan mereka…..”

Belum selesai Tita bermonolog, Nisfya yang juga memutuskan untuk menghabiskan masa liburan usai imtihannya dengan tetap tinggal di pondok, berjalan diam-diam mendekati Tita.

Nisfya               : (mengagetkan Tita) “Daaa !!!! Assalamu’alaikum Tita hehehe. Sampeyan mau kopi hangat ndak?”
Tita                    : “Wa’alaikumsalam, kamu to Nis. Wah asik ! cuaca mendung kayak gini emang cocok kalau minum kopi hangat. Makasih lho ya. Eh iya, kamu nggak jadi pulangkah Nisfya? Kangen rumah lho nanti?” (dengan wajah seperti tak ada masalah dan beban, berusaha ceria dan menggoda Nisfya)
Nisfya               : “Sama-sama. Ndak jadi Ta, sepertinya menghabiskan waktu di pondok selama liburan juga menyenangkan. Lagi pula dari tahun-tahun kemarin tiap liburan sudah pulang. Cari suasana liburan yang beda aja hehe. Sampeyan tadi lagi ngapain to? Kelihatannya sedang berbicara sama langit. Memangnya langit bisa mendengar ya Ta? Kenapa ndak bicara sama aku aja to kalau ada sesuatu, jelas-jelas pendengaranku ini jauh lebih baik dan langit.”
Tita                    : “Kamu ini malah ngelucu Nis. Nggak lucu tauk ! Huhh aku lagi bosen aja Nis, aku merasa nggak bahagia dengan semua yang ada di pondok, aku ngak suka dengan aktivitas yang serba memaksa dan nggak sesuai kehendakku. Paling nggak suka diatur-atur. Kenapa mesti ada yang namanya peraturan sedang orang nggak nyaman dengan peraturan itu? Bukankah setiap manusia memiliki haknya masing-masing untuk melakukan aktivitas, kegiatan, bahkan rutinitas dalam hidupnya?”
Nisfya               : “Tita, nggak semua bahagia itu kita dapatkan karena semua kegiatan dan aktivitasnya sesuai dengan kehendak kita. Terkadang sebuah peraturan itu penting juga dalam hidup ini. Simpelnya, bayangin aja kalau diperempatan jalan raya yang gede itu ndak ada peraturan kalau lampu merah behenti, lampu hijau jalan, dan kuning hati-hati, apa yang akan terjadi? Semrawut dan mungkin akan banyak korban. Berlaku juga buat kehidupan yang luas ini Ta. Sebuah pemaksaan pun kadang diperlukan. Sekarang bayangin aja kamu berada di jaman ketika listrik belum ada. Mereka harus memaksakan diri untuk tetap hangat ketika dingin melanda dan akhirnya mereka terbiasa dengan dingin itu dan dingin yang selama ini dingin tak akan terasa dingin karena terkadang suatu paksaan akan menjadikan kebiasaan. Berpikirlah Ta, maka Sampeyan bakal memperoleh jawaban.”
Tita                    : (melongo)
Nisfya               : “Adzan maghrib. Salat dulu yuk.” (mengulurkan tangan membantu Tita bangun dari tempat ia duduk)

ADEGAN 7

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Di pojok kanan kamar RT 04 Pondok Pesantren Fadhlun Minallah kompleks Aisyah, Tita Adrina Zafira tersenyum bahagia saat mendapati teman sekamarnya masih terlelap dalam indahnya mimpi.

Tita                    : “Nisfya !! Bangun !! Masak yang biasanya ngebangunin aku sekarang belum bangun. Malu ah hahaha.”
Nisfya               : “Sampeyan Tita? Tita Adrina Zafira? (berbicara setengah sadar). Hahh ? beneran Tita? Sudah bangun sampeyan? Sejak kapan sampeyan bangun sebelum ayam berkokok?”
Tita                    : “Pokoknya sekarang ayo bangun, salat tahajud dan segera jamaah subuh di masjid. Oke Bu bos?”
Nisfya               : “Alhamdulillah Ya Allah, segala puji bagiMu (berkata dalam hati). Siap. Laksanakan ! Hehe.”
Tita                    : “Sesudah salat subuh dan tadarus temani liat sunrise ya? Mau nggak mau pokoknya harus mau. Titik. Jumat kan sekolah libur.”
Nisfya               : “Iya deh. Apa sih yang enggak buat Tita cantik. Hahaha.” (tertawa lepas)
Tita                    : “Belajar jawab lebay dari siapa kamu? Hahaha.”
Nisfya               : “Dari sampeyan Mbak Tita, siapa lagi?”
Tita                    : “Sudahlah. Wudhu dulu sana. Aku salat tahajud duluan. Lama sih kamunya.” (takbiratul ihram memulai salat)

Adzan subuh berkumandang. Bergegas Tita menenteng sajadah hijau pemberian neneknya ketika sebelum berangkat menuju  pesantren. Berjalan dengan hati riang dengan senyum penuh harapan.


ADEGAN 8

Di atas bukit belakang pondok duduk dua santri masih lengkap dengan mukena melekat pada tubuh dan sajadah di genggamannya. Suara ayam berkokok pagi itu menambah suasana lebih membahagiakan.

Tita                    : “Tahu nggak alasan aku mengajakmu melihat sunrise pagi ini?”
Nisfya               : (menggeleng)
Tita                    : “Dulu di bawah tiang jemuran ketika sang mentari beranjak tenggelam dan aku dalam ambang keputuaasaan. Saat itu kau banyak membuatku berpikir dan memahami semua perkataanmu yang menurutku benar juga. Dan kali ini aku mau sang mentari pagi menjadi saksi kemenanganku atas penemuan diriku yang selama ini hilang. Kamu pula yang akan menjadi saksi bahwa mulai saat ini Tita Adrina Zafira akan memulai hidup baru seperti matahari. Terbit membawa kebahagiaan dan tenggelam penuh dengan keindahan. Aku ingin menjadi orang yang berguna seperti layaknya mentari, sepanjang hari selama sinarnya bersinar ia selalu memberi manfaat bagi makhluk hidup. Dan aku akan menjadikan jasaku bermanfaat seperti mentari dengan membangun PAUD islam bebasis pesantrean kelak setelah lulus dari pesantren ini. Doakan aku Nisfya. Dan terimakasih sudah mengembalikan hati tentram yang selama ini tersembunyi.”
Nisfya               : (tersenyum bahagia) “Amin dan kembali kasih Tita.”

-TAMAT-

Cantinya Mamaku Secantik Perjuanganku (Cerpen)


Pertandingan basket antar kelas saat class meeting SMA N 2 Sejahtera dimenangkan oleh kelas XI IPS yang dikapteni Irawati. Kemenangan ini mengukir senyum di wajah para pemain, namun tidak untuk sang kapten. Setiap hari Ira memang terkenal dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya, namun siapa sangka jika senyuman yang selama ini ia tebarkan hanyalah tipuan. Selama ini dalam hati ia selalu menaruh rindu yang mendalam.
            Sebotol air putih yang dibawa Ira tiba-tiba terjatuh di lantai beserta tubuh Ira yang mungil. Anak-anak basket yang berada didekatnya segera mengambil tindakan dan membawanya ke UKS sekolah. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Ira akhir-akhir ini dan tidak biasanya setelah pertandingan dia pingsan.
            Guys,nggak biasanya Ira pingsan kayak gini?”, tanya Tika seusai membaringkan tubuh mungil Ira di kasur UKS.
            “Iya,nggak bisanya. Apa jangan-jangan Ira sakit? Tapi kenapa maksa ikut pertandingan?”, Jawab Lia teman sebangku Ira penasaran.
            “Ma..Maa.. jem..put I..ra Ma.. I..ra ke..sepi..an.”, terdengar suara lirih dari bibir merah Ira beserta setetes air mata yang cukup jelas untuk didengar teman-temannya.
            “Alhamdulillah,..bangun Ra. Ini minum dulu.”, sapa Lia seraya mengulurkan segelas air putih.
            Setelah tersadar dan meminum segelas air pemberian Lia segeralah Ira bangun dan hendak menuju ke kelas, namun teman-temannya melarang sebab Ira masih pucat dan jalannya pun masih sempoyongan.
            “Istirahatlah dulu Ra”, ucap Lia penuh perhatian.
            “Aku mau ke kelas Li dan segera pulang. Aku nggak papa kok.”, ucap Ira meyakinkan Lia bahwa keadaannya sudah membaik.
            Lia tak dapat berkata apa-apa dan membiarkan Ira ke kelas mengambil tasnya dan menuju parkir sepeda SMA 2 Sejahtera yang memang menjunjung tinggi aksi cinta lingkungan dengan menyediakan parkir sepeda yang luas dan indah serta menganjurkan siswa yang rumahnya tak lebih dari 8KM untuk menggunakan sepeda ke sekolah.
            Hening. Di rumah, Ira memang selalu kesepian oleh karenanya dia jarang untuk pulang pagi dari sekolah karena biasanya dia mengahabiskan waktunya sampai sore di sekolah. Entah untuk mengikuti pembinaan olim kebumian-lah, rapat DA-lah, rapat PMR-lah, atau pun untuk ekstra musik. Ira memang sangat berbakat dalam bidang musik,selain suaranya yang merdu ia juga pandai bermain piano dan gitar.
            Prestasinya dalam bidang musik juga beragam mulai dari juara 1 paduan suara sekabupaten saat TK, juara 3 provinsi lomba macapat saat SD, juara harapan 2 tingkat nasional nyanyi saat SMP, dan prestasinya terakhir adalah juara 3 band tingkat nasional. Ira merupakan vokalis cewek dari band JustWe yang beranggotakan Musthofa di bass, Aji pegang di melodis, Angga di ritmis, dan Munir di Drum. JustWe sudah berhasil menciptakan 3 buah lagu yang berjudul Biarlah, Cinta Pertama dan Pengabdian.
            Prestasi Ira bukan hanya dalam bidang musik saja, namun prestasi dalam intrakuliler pun tak kalah ketinggalan. Ira pernah menjuarai OSN Matematika tingkat kabupaten sewaktu masih menduduki bangku kelas X, namun kini Ira bebalik haluan untuk mengikuti OSN kebumian dan beruntungnya gadis mungil nan manis ini terpilih untuk mewakili OSN kebumian di kabupaten. Keberuntungan itu bukan semata karena keberuntungan dari dewi fortuna melainkan Ira mamang anak yang rajin dan pantaslah jika ia terpilih untuk mewakili OSN kebumian tingkat kabupaten.
            Pagi ini Ira ada jadwal untuk mengikuti audisi band. Ya..walau hanya audisi band tingkat provinsi namun Ira selalu ingin tampil semaksimal mungkin karena tak ingin mengecewakan para fans JustWe yang kabarnya sudah menyebar ke penjuru dunia (si penulis sedikit lebay haha :D). Pagi-pagi buta Ira sudah menyetrika baju yang hendak ia kenakan dan dandan seperfect mungkin. Setelah jam menunjukkan pukul 07.30 segeralah ia berangkat dengan sepeda kesayangannya menuju rumah Musthofa.
            Sesampainya di rumah Musthofa Ira segera memarkir sepedanya dibawah pohon mangga dan menuju ke sebuah ruangan dimana Aji,Angga dan Munir sudah menunggunya.
            “Maaf telat. Banyak kerjaan tadi.”, Kata Ira dengan nafas terengah-engah.
            “Iya gapapa. Maklum loe kan cewek,pasti banyak kerjaan yang mananti. Hahahahaha”, Canda Angga yang memang anaknya humoris.
            Puas si Angga, Aji, Munir dan Ira bercanda segeralah mereka menuju mobil Aji dan melesat menuju sebuah universitas yang mengadakan audisi band untuk acara hiburan pra-MOS-nya kelak.
            “Waahh. Ini kampus gede banget ya bro!”, Ira yang tak pernah keliling-keliling melihat suasana luar desanya kagum melihat kampus yang sangat besar.
            “Gausah norak deh Ra,kayak ga pernah liat aja.”,Bentak Munir kesal dengan keudikan si Ira.
            Ira sangat sebal kalau mulut Munir yang sinis itu berkata. Ira dari awal memang ga suka kalau harus Munir yang menjadi drummer JustWe karena sifat Munir yang sangat kontras dengan mereka bertiga. Si Aji yang sifatnya cool abis tapi jujur apa adanya, Si Musthofa yang gokil, humoris dan menerima teman apa adanya, Si Angga yang sok kegantengan layaknya Joshapat ‘KMI’ tapi selalu terbuka, super lucu dan super humoris. Si Ira cewek yang lucu,murah senyum,gokil dan apa adanya dengan kondisinya, sedangkan Si Munir sok kecakepan, munafik, judes dan garing abis. Akan tetapi Ira,Aji dan Angga selalu menerima apa adanya sifat yang dimiliki Munir karena jika tanpa Munir apalah jadinya JustWe.
            Akhirnya kumandang adzan dhuhur bergema. Segeralah Aji, Angga, Ira dan Musthofa mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dhuhur di masjid kampus. Sebelum Ira pisah dengan Aji dan kawan-kawan karena jenis kelamin mereka beda dan otomatis tempat wudhunya pun beda, sempat terjadi perdebatan kecil antara Ira dan Musthofa.
            “Eh Ra hati-hati lhoo sendirian. Ada katak di tempat wudhunya. Hahaha”, Musthofa berusaha menakuti Ira yang memang pobia terhadap katak.
            “Eh.. mana ada katak di kampus elit kayak gini. Gausah nakut-nakutin deh (:P).”, kata Ira sambil teriak berusaha meyakinkan diri bahwa tidak mungkin ada katak di kampus seelit ini.
            Seusai sembahyang dan berdoa mereka berkumpul lagi di depan masjid dan bersiap untuk tampil karena dari tadi pagi mereka belum tampil sebab nomor undian mereka menunjukkan angka 59 yang artinya itu nomor 3 dari belakang.
            “Ngga. Bisa-bisa kita tampil udah malem dan orang-orang pada pulang karena udah malem terus kita tampil nggak ada penontonnya dan itu nggak asyik banget dan kita kan terbiasa dilihat banyak orang. Huhuhu gimana ini?”, Gaya alay Ira kambuh karena sudah lumutan menunggu panggilan nomor undiannya untuk tampil.
            “Terus gue harus bilang waow. Hahahahaha. Alaynya nggak usah kambuh dong Ra. Plis deh ah.”, Angga membalas kealayan Ira dengan gaya alaynya.
            Tak terasa kini waktu menunjukkan pukul 17.00 p.m. Seusai melaksanakan kewajiban sholat ‘ashar mereka memutuskan untuk makan karena cacing dalam purut mereka telah berdendang ikuti irama kelaparan yang diderita.
            Dugaan Ira ternyata benar. Mereka tampil seusai ‘isyak. Tepatnya pukulnya 20.00 p.m namun dugaannya sedikit meleset. Orang-orang masih banyak bertebaran di wilayah kampus dan penampilan mereka pun maksimal, mantap dan tak mengecewakan para juri.
            Ira sampai di rumah diantarkan Musthofa dengan mobilnya karena ia tak tega membiarkan gadis mungil ini pulang sendirian malam-malam dengan sepeda.
            “Besok sepedanya aku bawa sekolah dan kamu bisa ambil setelah pulang. Jadi nggak perlu mengambilnya di rumahku. Oke ?” , Pesan Musthofa kepada Ira setelah tiba di rumah Ira.
            “Oke bro. Aku masuk dulu ya. Daa.”, Jawab Ira dengan singkat karena tubuhnya sudah lelah, dan mengantuk lemas.
            Paginya Ira harus bangun pagi karena ia harus berangkat sekolah jalan kaki sebab sepedanya berada di rumah Musthofa. Pukul 05.50 a.m Ira sudah mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju sekolah tempat ia biasanya mencari ilmu.
            Di sepanjang jalan memang sepi dan Ira sangat benci dengan kesepian karena sepi itu selalu mengantarkannya pada sebuah kesedihan dan kerinduan yang selama ini ia pendam. Yakni kerinduan kepada sosok yang selalu dibanggakan oleh semua orang. Ibu. Ira sedari kecil memang tak tahu dimana ibunya bahkan foto wanita hebat itu pun ia tak punya. Tak banyak memang yang mengetahui hidupnya yang malang ini. Hanya Angga, Aji, Musthofa, Lia yang tahu dan Ira tak mau semua orang tahu soal ini.
            Air mata Ira tak tertahan lagi. Di perjalanan menuju sekolah ia sempat duduk di kursi dekat taman dan meluapkan kesedihan dan kerinduannya kepada ibu yang telah melahirkannya namun kini tak ia ketahui dimana keberadaannya. Ira memang tak seberuntung teman-temannya yang bisa selalu bersanding dengan kedua orang tuanya,bisa bermanja-manja dengan kedua orang tuanya, tamasya bersama kedua orang tuanya. Sejak kecil bahkan sejak Ira belum mengenal kata kecil ia tak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Selama ini yang merawat dan membesarkannya adalah neneknya.
            Sesampainya di sekolah mata lebamnya yang dapat ia sembunyikan. Muka sedihnya pun tak dapat ia buang ke jalan. Hal itu membuat Lia teman sebangkunya bertanya dengan wajah serius kepada Ira dan Ira hanya menjawab dengan dua kata “nggak papa”. Tak puas dengan jawaban itu Lia terus bertanya kepada Ira dan berharap Ira menceritakan masalah yang dialami kepadanya.
            “Aku nggak papa Lia. Nggak usah tanya lagi. Sebentar lagi Pak Roni masuk kelas!”, Ira dengan nada sedikit marah menutup pertanyaan yang Lia lontarkan kepadanya bersamaan dengan hadirnya Guru Matematika.
            Jam mata pelajaran pertama Ira pun buyar. Hal serupa dialami oleh Lia karena penasaran dengan apa yang membuat Ira yang biasanya semangat dan ceria datang ke sekolah menjadi sedih dan murung bak kain kusut tak terpakai lagi.
            Jam istirahat pun datang. Ira bergegas keluar dan Lia berusaha mengikuti langkahnya namun Ira berusaha unutk mempercepat langkahnya agar Lia tidak menyamai langkahnya. Lia menyerah. Ia sadar Ira sedang tak ingin diganggu dan Lia memutuskan untuk ke perpustakaan dan tidak mengikuti Ira ke kantin.
            Di perpusakaan inilah biasanya Ira berada jika sedang ada masalah dengan teman-temannya atau neneknya. Lain halnya dengan hari ini. Bukannya Ira yang berada di perpustakaan karena terlihat banyak masalah,ini justru Lia yang kebingungan memikirkan masalah Ira dengan menyendiri di perpustakaan sekolah.
            Dipojok kanan tepatnya pada rak buku referensi nampak sosok yang tak asing lagi bagi Lia. Angga. Ya..Angga juga merupakan salah satu dari banyak teman baik yang dimiliki Ira. Lia mendekati Angga dan mencoba menanyakan keadaan Ira. Siapa tahu Angga tahu dengan apa yang dialami Ira.
            “Ngga,tahu kabar Ira nggak?”,Tanya Lia tanpa basa-basi.
            “Enggak. Dari tadi pagi gue belum liat tu batang hidungnya Ira.”
            Ternyata Angga pun tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Ira. Lia pun semakin penasaran. Rasanya ingin sekali memaksa Ira untuk menceritakan apa yang sedang menimpanya hingga merusak hari yang seharusnya bahagia. Rasa penasaran Lia tak sebanding dengan ketakutan yang ia alami. Ia takut kalau ia memaksa Ira untuk menceritakan masalahnya akan membuat Ira marah dan tidak mau lagi berteman dengannya. Akhirnya dibiarkannya rasa penasaran itu sampai bel pulang sekolah berbunyi.
            Lia akhirnya buka mulut untuk memulai pembicaraan dengan Ira karena sejak pagi mereka hanya diam tanpa sapa dan senyum.
            “Ra,pulang bareng yuk. Aku naik sepeda kok.”
            “Nggak mau ah aku mau pulang sendiri aja. Oh ya maaf ya Li dari tadi pagi aku hanya diamin kamu bahkan aku bentak-bentak kamu. Aku nggak maksud gitu kok.”, Papar Ira.
            “Iya gapapa kok Ra,aku juga minta maaf kalau maksa kamu buat cerita dan ingin tahu urusan kamu.”, Jawab Lia dengan raut wajah penyesalan.
            Ira pulang bersepeda sendirian karena menolak ajakan Lia namun Ira tak menyesalinya. Saat ini ia hanya ingin sendiri, sendiri dan sendiri. Keadaan ini membuat Ira sering menyendiri saat sekolah bahkan menolak jika ada temannya yang hendak main ke rumahnya untuk belajar bersama atau sekedar say hello.
            Kebiasaan menyendiri yang dialami Ira telah berlangsung selama seminggu ini. Bahkan saat diajak untuk latihan band pun Ira menolak. Padahal sebentar lagi tutup tahun SMA N 2 Sejahtera akan segera dilaksanakan namun Ira tetap saja menolak untuk diajak latihan. Hal ini membuat para personil JustWe curiga kecuali Munir. Disaat seperti ini ide konyol Munir tercetus. Ia mengusulkan mencari vokalis sementara pengganti Ira selama ia vakum. Serentak ketiga personil yang lain menolak dan tidak suka kata vakum terucap atas ketidakmauan Ira untuk latihan.
            “Nggak bisa seenaknya cari vokalis sementara dong. Mana kekompakan kita? Harusnya loe tu sebagai anggota JustWe mengerti dong keadaan Ira dan membantu jika Ira sedang ada masalah, tapi apa? Kamu justru mengusulkan ide BODOH !!”, Angga marah begitu mendengar ide yang baru saja Munir sampaikan malalui mulutnya dengan tampang tanpa dosa.
            “TERSERAH ! gue keluar dari band ini. Muak gue!”, Kemarahan Munir pun menjadi-jadi.
            “Silahkan,kita juga nggak butuh pengkhiatan kayak…….”
            “STOOOP !!”, Tiba-tiba terdengar teriakan dari ujung sehingga memotong kata-kata yang hendak Angga lontarkan pada Munir.
            “Kalian ini satu tim. Harusnya kalian tu kompak dan solid.”, Ucap Lia yang berhasil menenangkan suasana di sebuah ruangan kecil yang biasa disebut studio.
            Suasana hening kini menyelimuti sebuah ruangan studio yang seharusnya ramai dengan suara petikan gitar, dentuman bass dan pukulan drum. Angga menundukkan kepala dan menyesal dengan apa yang telah ia lakukan keada Munir dan Munir pun menyesali dengan ide yang tak sengaja ia sampaikan sehingga membuat kekacauan. Sebenci-bencinya Munir pada Ira,ia pun menyadari bahwa band yang sudah dua tahun berdiri ini tak akan menjadi seperti saat ini jika tanpa adanya Ira sebagai vokalis yang selalu berusaha tampil prima dan maksimal.
            Ira berhasil membuat JustWe diambang perpecahan. Ia pun berhasil selama hampir sebulan menyendiri dan Ira juga berhasil menurunkan prestasi yang selama ini ia dapatkan. Peringkat dikelas turun, peringkat parelel pun turun tiga kali lipat yang biasanya mendapatkan peringkat 5 paralel kini harus mendapat peringkat 15 pararel.
            Akhir-akhir ini Ira memang tak punya semangat belajar. Bahkan semangat berangkat sekolah pun luntur. Semanjak sepi yang melandanya tempo lalu. Ia hanya termenung dan membayangkan betapa bahagianya jika mamanya menemui dan mengajaknya jalan-jalan ke mall layaknya mama dan anak yang dilakukan orang kebanyakan.
            Bel pulang sekolah berbunyi namun Ira tak segera menuju parkiran. Ia malah menuju sebuah pohon kelengkeng di halaman sekolah yang kala itu sedang berbuah.tak banyak memang anak-anak yang menginginkan berada di bawah pohon kelengkeng yang sudah sangat tua untuk bercengkrama atau hanya sekedar duduk santai.
            “Ra,apa yang kamu lakukan di situ?”, sapa Tika yang kebetulan lewat pohon kelengkeng yang ada Ira dibawahnya termenung dengan pensil dan sebuah kertas di tangannya.
            “Aku sedang berbicara dengan seseorang yang sangat spesial.”, jawab Ira dengan sedikit senyuman yang tulus.
            Tika hanya berlalu mendengar jawaban Ira yang ngaco. Tak digubrisnya apa yang sedang Ir alakukan sebab ia juga terburu-buru akan menghadiri rapat OSIS di ruang 20. Setelah berada lima meter dari arha dimana Ira duduk,Tika baru tersadar bahwa apa yang dilakukan Ira tak masuk akal. “Gimana bisa dia berbicara dengan orang spesial sedang disekitarnya tak ada satu pun orang yang dapt ia ajak berbicara kecuali aku yang sempat mengajaknya bicara. Tapi apakah aku yang dimaksud orang spesial itu? Ah mana mungkin. Lalu siapa?”, Tika bergumam dalam hati karena baru menyadari ada yang aneh dengan Lia.
            Tika memutuskan untuk kembali dan menemui Ira yang masih termenung sambil sesekali senyum tipis di bawah pohon kelengkeng yang sangat sejuk. Ia tak menyapanya dari jauh melainkan langsung duduk di samping kanan Ira dan melihat apa sebenarnya yang Ira lakukan. Ternyata kertas yang Ira bawa berisi dialog-dialog yang cukup panjang. Antara Ira dan mama. Ya mama. Dalam kertas itu bertuliskan Ira dan mama Ira.

Ira       : “Ma Ira nemuin foto mama waktu masih seumuran Ira. Ternyata mama cantik ya? Tapi Ira tak berhasil nemuin foto mama sekarang. Kira-kira mama masih cantik nggak ya?”

 
           






Janggal. Benar-benar janggal. Kenapa Ira tak mengetahui rupa wanita yang selama ini mengasuhnya. Wanita yang rela mati hanya untk keselamatan anaknya. Aneh. Ini benar-benar aneh. Begitulah otak Tika berfikir setelah membaca dialog-dialog yang ada dalam kertas genggaman Ira.
            “Ra, memangnya mama kamu dimana? Ke luar kota ya?”, Tika memulai sebuah percakapan.
            “Mamaku jauh sekali dan aku nggak tahu dimana Beliau berada sejak aku belum mengenal kata belum.”, jawab Ira dengan tetesan air mata yang menetesi kertas yang ada di tangannya.
            “Loh kok?”, Tika terkejut, heran dan mati penasaran.
            “Aku memang tak pernah melihat wajah orangtuaku sejak aku hidup di dunia ini. Bahkan foto mereka pun aku tak punya. Huhuhuhuhuhu.”, tangisan Ira kini meledak dan airmatanya membasahi baju putih Ira.
            “Tapi dalam kertas itu kamu menulis ….”, belum sempat Tika menyelesaikan pertanyaannya karena tipe orang yang mempunyai rasa penasaran yang tinggi, Ira sudah menjawabnya.
            “Memang,sekarang aku punya fotonya tapi mugin ini sudah 20 tahun yang lalu saat mamaku duduk di bangku sekoah menengah pertama.”, seraya menyerahkan foto kusam kepda Tika.
            Ira tak mampu menahan kesedihannya. Ia meluapkan semuanya kepada Tika, salah satu teman yang ia percayai. Ira menceritakan semuanya kepada Tika,mulai dari kesepian itu,hingga kesedihan ini.
            Tika memaklumi. Ya .. Tika sangat memaklumi bila akhir-akhir ini Ira banyak menyendiri, melamun dan kadang tersenyum sendiri. Ini tekanan batin dan mungkin bila Tika yang berada dalam posisi Ira Tika sudah nekat mengakhiri hidupnya karena tak mampu mengahadapi semua ini. Namun lain dengan Ira,ia gadis kuat dan tegar, walau terkadang ia merasa tak mampu toh akhirnya ia juga mampu menahan diri unutk tidak melakukan hal ceroboh seperti Tika bila berada pada posisinya.
            “Mama kamu cantik Ra. Jangan sedih lagi ya, suatu saat kamu pasti akan bertemu Beliau. Kamu ini gadis pintar Ra,percuma jika kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan menganggurkan potensi yang kamu miliki. Bangkitlah Ra dan buktikan kepada mamamu bahwa perjuanganmu itu secantik wajah mamamu.”
            Hati Ira luluh dan memantapkan tekadnya untuk kembali menjadi anak yang produktif dengan menganggukkan kata-kata Tika seraya berkata “YA”.

Bukankah....

Malam pembaca setia blog saya..
Malam ini saya nak cerita tak banyak, hanya saja malam ini uswa mau bertanya lantas apa maksud 'perkataan' seseorang itu selama ini..

Oke aku mengerti ini semua keputusanku kita hanya teman, ya hanya teman. Namun 'perkataan' itu tak akan pernah ku lupakan. Biar kelak radarku yang akan kembali menemukan getaran itu, melalui perantara seperti kemarinkah? Atau justru radarmu yang akan mencari getaran itu lagi? Atau waktu yang akan membawanya kembali? Entahlah..

Aku senang, senang sekali malah.. Lega semua tak ganjil lagi.. Ku tunggu setiap kabar darimu dan..
Aku menunggu sampai kesiapanmu itu benar-benar terbukti.. Dan kau hadir kembali...

Bukankah cinta itu soal perbuatan? Bukan hanya perkataan? Aku lebih percaya takdir Tuhan.

Rabu, 08 Mei 2013

Perahu Kertas (#uswa)


Selamat sore reader, postingan saya kali bertemakan uswa dan kesedihan uswa serta cara uswa melampiaskan sedihnya itu *ihh

Biasanya aku tu kalo lagi sedih atau senang atau bagaimana perasaannya sukanya nulis, hal itu dimulai sejak usia dini. Aku inget pertama punya diary tu waktu SD, oh iya aku pernah buat sebuah lagu lho dalam diary itu, kalo nggak salah inget tu judulnya “indah pemandangan alam” ini nih lirik yang masih ada dalam ingatan sayaa....

Indah indah pemandangan alam..
Indah indah pemandangan alam
Indah indah pemandangan bulan dan bintang...
Pemandangan alam itu indah karena..... *tetot  habis lirik ini saya lupa*

Dengan nada dan not  yang tak begitu indah padahal judul lagunya indah hahaha, ternyata bakat juga ya jadi sebuah pencipta lagu ahihihihi *narsis dikit*

Setelah sekaian lama diary itu menghilang, suatu saat waktu beres-beres kamar yang sudah tak layak huni namun tetap saja saya menjadi penghuni setia karna hanya punya satu kamar di rumah yang khusus untuk saya dan nggak ada alasan untuk tak menempati kamar itu. Di bawah baju-baju yang udah lama nggak saya pake nemu juga buku harian yang udah dari jaman purba kali ya... buku merah bersampul gambar kartun ‘spiderman’ dan sampe sekarang aku nggak tahu kenapa mesti gambar spiderman coba, apa alasannya seorang cewek atau lebih tepatnya anak perempuan yang belum cukup umur punya diary dengan sampul nggak masuk akal dan lebih cenderung kepada buku anak laki-laki yang belum cukup umur haha. Bingung juga, tapi nggak pentimg juga sih mikirin alasan kenapa pake buku itu yang setelah aku coba cari lagi bukunya udah nggak ada lagi wkwkw dasar uswa --“

Setelah diatas ngomongin hal yang nggak jelas gitu mending kita langsung bahas kepada sebuah tulisan dan uswa yang suka nulis-nulis nggak jelas gini.

Menurutku menulis itu bukan hal yang mudah lho guys, soalnya bahasa tulisan itu malah kadang sulit dipahami, contohnya aja nulis “makan” sama “makan !” artinya udah beda.  Makan yang nggak pake tanda seru itu bisa berarti kata kerja atau kata benda jikalau ngak disertakan objek/subjeknya *heleh* atau kata apalah gitu, tapi kalo makan yang pake tanda seru itu artinya bisa menyuruh makan dengan nada kasar. Beda kan guys, so bahasa tulisan itu lebih sulit dipahami daripada bahasa yang diucapkan. Apalagi kalo yang ditulis itu tulisan puitis, beeee lebih sulit lagi itu *kalian juga paham kalo itu ya ahihihi*
Walaupun nulis itu sulut tapi aku lebih suka nulis kalo mengungkapkan sebuah perasaan, meluapkan sebuah emosi walau kadang nggak cukup sih kalo cuma nulis aja tapi bagiku menulis itu bisa mengurangi rasa bosan dan ada kepuasan tersendirilah.

Air. Setelah banyak ngomingin nulis dan menulis sekarang aku mau ngajak kalian ke duniaku yang lain, yakni air. Entah kenapa juga uswa kok dolahirin aneh gini, masih gede masih aja suka mainan air, betah deh kalo suruh mainan sama air, suruh hujan-hujanan juga seneng banget, anak kecil banget kan. Ah tapi it’s not a big problem, yang penting seneng :p

Karena saya itu suka banget kalo sama air apalagi sama sungai dan pantai. Walau nggak tiap hari tiap pekan tiap bulan ke sungai dan ke pantai juga, tapi kalo udah ada di pantai rasanya tu seneng banget, suara ombaknya yang damai, airnya yang banyaak dan warna biru yang menjulang begitu indahnya. Subhanallah banget deh :) dan ternyata pantai membawa kenangan tersendiri untuk saat ini *eh. Dan kalo untuk sungai yang aku suka dari sungai tu kalo sungai yang mengalir dan nggak begitu dalam. Jadi sungai yang dangkal tapi ada sebuah aliran yang mendamaikan hati. Dan bagiku sungai itu mampu membawa pergi semua yang nggak diinginkan. Karena apa? Akan saya kupas nanti dibawah...

Udah tahu kan sekarang kalo uswa tu suka air, hujan, dan nulis. Yang kalian belum tahu adalah soal perahu kertas. Uswa dari dulu hobi lho buat perahu kertas kalo pas lagi hujan...

Dulu ketika hujan belakang rumahku kalo hujan tiba dan deras sekali tu ada danau kaget *dadakan maksudnya* dan bagus banget kalo untuk melayarkan sebuah perahu, perahu kertas lebih tepatnya. Waktu aku masih kecil, kalo hujan dan agak banjir gitu didepan dan belakang rumah aku dan adekku (Ja’far Shodiq) suka banget kalo suruh buat perahu kertas dan dilayarkan bersama. Kalo nggak dilayarkan didepan rumah ya di danau dadakan itu.

Tuntas sudah pengantar bahasan yang bersangkutan dengan judul postingan saya kali ini. About air, sungai, pantai, nulis, melampiaskan sebuah perasaan, dan perahu kertas.
Kini saatnya ke bahasan inti “PERAHU KERTAS (#USWA)”

Perahu kertas (#uswa) ini terinspirasi oleh sebuah film dengan judul sama (tanpa #uswa tentunya hehe). Yaa dalam cerita itu si cewek suka banget nulis surat kepada Neptunus yang akhirnya surat itu dibuat perahu kertas dan dilayarkan.

Sejak nonton film itu saya jadi menemukan cara lain unutk melampiaskan bahkan mengungkapkan semua perasaan yang ada dalam sebuah kertas yang nantinya akan berwujud perahu kertas... kenapa bisa seperti itu? Seperti yang sudah diuraikan diatas, aku tu suka nulis, suka air, pantai, sungai, hujan, buat perahu kertas dan melayarkannya dengan alasan nggak jelas awalnya. Namun kini sedikit menemukan alasan untuk saya lakukan lagi hobi gila itu.

Perahu kertas #1 tertanggl 24 Februari 2013
Ini ada hubungannya sama postingan saya "A Thousand Years" A Thousand Feel (silahkan baca bagi yang belum baca) dan sepertinya tidak perlu saya ulangi lagi bagaimana ceritanya. Initinya dalam perahu kertas #1 kali ini bahwa uswa mengungkapkan sebuah perasaan secara terang-terangan untuk pertama kalinya. Wooow deg-degannya nggak berhenti-henti bung.