Minggu, 19 Mei 2013

Cantinya Mamaku Secantik Perjuanganku (Cerpen)


Pertandingan basket antar kelas saat class meeting SMA N 2 Sejahtera dimenangkan oleh kelas XI IPS yang dikapteni Irawati. Kemenangan ini mengukir senyum di wajah para pemain, namun tidak untuk sang kapten. Setiap hari Ira memang terkenal dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya, namun siapa sangka jika senyuman yang selama ini ia tebarkan hanyalah tipuan. Selama ini dalam hati ia selalu menaruh rindu yang mendalam.
            Sebotol air putih yang dibawa Ira tiba-tiba terjatuh di lantai beserta tubuh Ira yang mungil. Anak-anak basket yang berada didekatnya segera mengambil tindakan dan membawanya ke UKS sekolah. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Ira akhir-akhir ini dan tidak biasanya setelah pertandingan dia pingsan.
            “Guys,nggak biasanya Ira pingsan kayak gini?”, tanya Tika seusai membaringkan tubuh mungil Ira di kasur UKS.
            “Iya,nggak bisanya. Apa jangan-jangan Ira sakit? Tapi kenapa maksa ikut pertandingan?”, Jawab Lia teman sebangku Ira penasaran.
            “Ma..Maa.. jem..put I..ra Ma.. I..ra ke..sepi..an.”, terdengar suara lirih dari bibir merah Ira beserta setetes air mata yang cukup jelas untuk didengar teman-temannya.
            “Alhamdulillah,..bangun Ra. Ini minum dulu.”, sapa Lia seraya mengulurkan segelas air putih.
            Setelah tersadar dan meminum segelas air pemberian Lia segeralah Ira bangun dan hendak menuju ke kelas, namun teman-temannya melarang sebab Ira masih pucat dan jalannya pun masih sempoyongan.
            “Istirahatlah dulu Ra”, ucap Lia penuh perhatian.
            “Aku mau ke kelas Li dan segera pulang. Aku nggak papa kok.”, ucap Ira meyakinkan Lia bahwa keadaannya sudah membaik.
            Lia tak dapat berkata apa-apa dan membiarkan Ira ke kelas mengambil tasnya dan menuju parkir sepeda SMA 2 Sejahtera yang memang menjunjung tinggi aksi cinta lingkungan dengan menyediakan parkir sepeda yang luas dan indah serta menganjurkan siswa yang rumahnya tak lebih dari 8KM untuk menggunakan sepeda ke sekolah.
            Hening. Di rumah, Ira memang selalu kesepian oleh karenanya dia jarang untuk pulang pagi dari sekolah karena biasanya dia mengahabiskan waktunya sampai sore di sekolah. Entah untuk mengikuti pembinaan olim kebumian-lah, rapat DA-lah, rapat PMR-lah, atau pun untuk ekstra musik. Ira memang sangat berbakat dalam bidang musik,selain suaranya yang merdu ia juga pandai bermain piano dan gitar.
            Prestasinya dalam bidang musik juga beragam mulai dari juara 1 paduan suara sekabupaten saat TK, juara 3 provinsi lomba macapat saat SD, juara harapan 2 tingkat nasional nyanyi saat SMP, dan prestasinya terakhir adalah juara 3 band tingkat nasional. Ira merupakan vokalis cewek dari band JustWe yang beranggotakan Musthofa di bass, Aji pegang di melodis, Angga di ritmis, dan Munir di Drum. JustWe sudah berhasil menciptakan 3 buah lagu yang berjudul Biarlah, Cinta Pertama dan Pengabdian.
            Prestasi Ira bukan hanya dalam bidang musik saja, namun prestasi dalam intrakuliler pun tak kalah ketinggalan. Ira pernah menjuarai OSN Matematika tingkat kabupaten sewaktu masih menduduki bangku kelas X, namun kini Ira bebalik haluan untuk mengikuti OSN kebumian dan beruntungnya gadis mungil nan manis ini terpilih untuk mewakili OSN kebumian di kabupaten. Keberuntungan itu bukan semata karena keberuntungan dari dewi fortuna melainkan Ira mamang anak yang rajin dan pantaslah jika ia terpilih untuk mewakili OSN kebumian tingkat kabupaten.
            Pagi ini Ira ada jadwal untuk mengikuti audisi band. Ya..walau hanya audisi band tingkat provinsi namun Ira selalu ingin tampil semaksimal mungkin karena tak ingin mengecewakan para fans JustWe yang kabarnya sudah menyebar ke penjuru dunia (si penulis sedikit lebay haha :D). Pagi-pagi buta Ira sudah menyetrika baju yang hendak ia kenakan dan dandan seperfect mungkin. Setelah jam menunjukkan pukul 07.30 segeralah ia berangkat dengan sepeda kesayangannya menuju rumah Musthofa.
            Sesampainya di rumah Musthofa Ira segera memarkir sepedanya dibawah pohon mangga dan menuju ke sebuah ruangan dimana Aji,Angga dan Munir sudah menunggunya.
            “Maaf telat. Banyak kerjaan tadi.”, Kata Ira dengan nafas terengah-engah.
            “Iya gapapa. Maklum loe kan cewek,pasti banyak kerjaan yang mananti. Hahahahaha”, Canda Angga yang memang anaknya humoris.
            Puas si Angga, Aji, Munir dan Ira bercanda segeralah mereka menuju mobil Aji dan melesat menuju sebuah universitas yang mengadakan audisi band untuk acara hiburan pra-MOS-nya kelak.
            “Waahh. Ini kampus gede banget ya bro!”, Ira yang tak pernah keliling-keliling melihat suasana luar desanya kagum melihat kampus yang sangat besar.
            “Gausah norak deh Ra,kayak ga pernah liat aja.”,Bentak Munir kesal dengan keudikan si Ira.
            Ira sangat sebal kalau mulut Munir yang sinis itu berkata. Ira dari awal memang ga suka kalau harus Munir yang menjadi drummer JustWe karena sifat Munir yang sangat kontras dengan mereka bertiga. Si Aji yang sifatnya cool abis tapi jujur apa adanya, Si Musthofa yang gokil, humoris dan menerima teman apa adanya, Si Angga yang sok kegantengan layaknya Joshapat ‘KMI’ tapi selalu terbuka, super lucu dan super humoris. Si Ira cewek yang lucu,murah senyum,gokil dan apa adanya dengan kondisinya, sedangkan Si Munir sok kecakepan, munafik, judes dan garing abis. Akan tetapi Ira,Aji dan Angga selalu menerima apa adanya sifat yang dimiliki Munir karena jika tanpa Munir apalah jadinya JustWe.
            Akhirnya kumandang adzan dhuhur bergema. Segeralah Aji, Angga, Ira dan Musthofa mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dhuhur di masjid kampus. Sebelum Ira pisah dengan Aji dan kawan-kawan karena jenis kelamin mereka beda dan otomatis tempat wudhunya pun beda, sempat terjadi perdebatan kecil antara Ira dan Musthofa.
            “Eh Ra hati-hati lhoo sendirian. Ada katak di tempat wudhunya. Hahaha”, Musthofa berusaha menakuti Ira yang memang pobia terhadap katak.
            “Eh.. mana ada katak di kampus elit kayak gini. Gausah nakut-nakutin deh (:P).”, kata Ira sambil teriak berusaha meyakinkan diri bahwa tidak mungkin ada katak di kampus seelit ini.
            Seusai sembahyang dan berdoa mereka berkumpul lagi di depan masjid dan bersiap untuk tampil karena dari tadi pagi mereka belum tampil sebab nomor undian mereka menunjukkan angka 59 yang artinya itu nomor 3 dari belakang.
            “Ngga. Bisa-bisa kita tampil udah malem dan orang-orang pada pulang karena udah malem terus kita tampil nggak ada penontonnya dan itu nggak asyik banget dan kita kan terbiasa dilihat banyak orang. Huhuhu gimana ini?”, Gaya alay Ira kambuh karena sudah lumutan menunggu panggilan nomor undiannya untuk tampil.
            “Terus gue harus bilang waow. Hahahahaha. Alaynya nggak usah kambuh dong Ra. Plis deh ah.”, Angga membalas kealayan Ira dengan gaya alaynya.
            Tak terasa kini waktu menunjukkan pukul 17.00 p.m. Seusai melaksanakan kewajiban sholat ‘ashar mereka memutuskan untuk makan karena cacing dalam purut mereka telah berdendang ikuti irama kelaparan yang diderita.
            Dugaan Ira ternyata benar. Mereka tampil seusai ‘isyak. Tepatnya pukulnya 20.00 p.m namun dugaannya sedikit meleset. Orang-orang masih banyak bertebaran di wilayah kampus dan penampilan mereka pun maksimal, mantap dan tak mengecewakan para juri.
            Ira sampai di rumah diantarkan Musthofa dengan mobilnya karena ia tak tega membiarkan gadis mungil ini pulang sendirian malam-malam dengan sepeda.
            “Besok sepedanya aku bawa sekolah dan kamu bisa ambil setelah pulang. Jadi nggak perlu mengambilnya di rumahku. Oke ?” , Pesan Musthofa kepada Ira setelah tiba di rumah Ira.
            “Oke bro. Aku masuk dulu ya. Daa.”, Jawab Ira dengan singkat karena tubuhnya sudah lelah, dan mengantuk lemas.
            Paginya Ira harus bangun pagi karena ia harus berangkat sekolah jalan kaki sebab sepedanya berada di rumah Musthofa. Pukul 05.50 a.m Ira sudah mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju sekolah tempat ia biasanya mencari ilmu.
            Di sepanjang jalan memang sepi dan Ira sangat benci dengan kesepian karena sepi itu selalu mengantarkannya pada sebuah kesedihan dan kerinduan yang selama ini ia pendam. Yakni kerinduan kepada sosok yang selalu dibanggakan oleh semua orang. Ibu. Ira sedari kecil memang tak tahu dimana ibunya bahkan foto wanita hebat itu pun ia tak punya. Tak banyak memang yang mengetahui hidupnya yang malang ini. Hanya Angga, Aji, Musthofa, Lia yang tahu dan Ira tak mau semua orang tahu soal ini.
            Air mata Ira tak tertahan lagi. Di perjalanan menuju sekolah ia sempat duduk di kursi dekat taman dan meluapkan kesedihan dan kerinduannya kepada ibu yang telah melahirkannya namun kini tak ia ketahui dimana keberadaannya. Ira memang tak seberuntung teman-temannya yang bisa selalu bersanding dengan kedua orang tuanya,bisa bermanja-manja dengan kedua orang tuanya, tamasya bersama kedua orang tuanya. Sejak kecil bahkan sejak Ira belum mengenal kata kecil ia tak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Selama ini yang merawat dan membesarkannya adalah neneknya.
            Sesampainya di sekolah mata lebamnya yang dapat ia sembunyikan. Muka sedihnya pun tak dapat ia buang ke jalan. Hal itu membuat Lia teman sebangkunya bertanya dengan wajah serius kepada Ira dan Ira hanya menjawab dengan dua kata “nggak papa”. Tak puas dengan jawaban itu Lia terus bertanya kepada Ira dan berharap Ira menceritakan masalah yang dialami kepadanya.
            “Aku nggak papa Lia. Nggak usah tanya lagi. Sebentar lagi Pak Roni masuk kelas!”, Ira dengan nada sedikit marah menutup pertanyaan yang Lia lontarkan kepadanya bersamaan dengan hadirnya Guru Matematika.
            Jam mata pelajaran pertama Ira pun buyar. Hal serupa dialami oleh Lia karena penasaran dengan apa yang membuat Ira yang biasanya semangat dan ceria datang ke sekolah menjadi sedih dan murung bak kain kusut tak terpakai lagi.
            Jam istirahat pun datang. Ira bergegas keluar dan Lia berusaha mengikuti langkahnya namun Ira berusaha unutk mempercepat langkahnya agar Lia tidak menyamai langkahnya. Lia menyerah. Ia sadar Ira sedang tak ingin diganggu dan Lia memutuskan untuk ke perpustakaan dan tidak mengikuti Ira ke kantin.
            Di perpusakaan inilah biasanya Ira berada jika sedang ada masalah dengan teman-temannya atau neneknya. Lain halnya dengan hari ini. Bukannya Ira yang berada di perpustakaan karena terlihat banyak masalah,ini justru Lia yang kebingungan memikirkan masalah Ira dengan menyendiri di perpustakaan sekolah.
            Dipojok kanan tepatnya pada rak buku referensi nampak sosok yang tak asing lagi bagi Lia. Angga. Ya..Angga juga merupakan salah satu dari banyak teman baik yang dimiliki Ira. Lia mendekati Angga dan mencoba menanyakan keadaan Ira. Siapa tahu Angga tahu dengan apa yang dialami Ira.
            “Ngga,tahu kabar Ira nggak?”,Tanya Lia tanpa basa-basi.
            “Enggak. Dari tadi pagi gue belum liat tu batang hidungnya Ira.”
            Ternyata Angga pun tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Ira. Lia pun semakin penasaran. Rasanya ingin sekali memaksa Ira untuk menceritakan apa yang sedang menimpanya hingga merusak hari yang seharusnya bahagia. Rasa penasaran Lia tak sebanding dengan ketakutan yang ia alami. Ia takut kalau ia memaksa Ira untuk menceritakan masalahnya akan membuat Ira marah dan tidak mau lagi berteman dengannya. Akhirnya dibiarkannya rasa penasaran itu sampai bel pulang sekolah berbunyi.
            Lia akhirnya buka mulut untuk memulai pembicaraan dengan Ira karena sejak pagi mereka hanya diam tanpa sapa dan senyum.
            “Ra,pulang bareng yuk. Aku naik sepeda kok.”
            “Nggak mau ah aku mau pulang sendiri aja. Oh ya maaf ya Li dari tadi pagi aku hanya diamin kamu bahkan aku bentak-bentak kamu. Aku nggak maksud gitu kok.”, Papar Ira.
            “Iya gapapa kok Ra,aku juga minta maaf kalau maksa kamu buat cerita dan ingin tahu urusan kamu.”, Jawab Lia dengan raut wajah penyesalan.
            Ira pulang bersepeda sendirian karena menolak ajakan Lia namun Ira tak menyesalinya. Saat ini ia hanya ingin sendiri, sendiri dan sendiri. Keadaan ini membuat Ira sering menyendiri saat sekolah bahkan menolak jika ada temannya yang hendak main ke rumahnya untuk belajar bersama atau sekedar say hello.
            Kebiasaan menyendiri yang dialami Ira telah berlangsung selama seminggu ini. Bahkan saat diajak untuk latihan band pun Ira menolak. Padahal sebentar lagi tutup tahun SMA N 2 Sejahtera akan segera dilaksanakan namun Ira tetap saja menolak untuk diajak latihan. Hal ini membuat para personil JustWe curiga kecuali Munir. Disaat seperti ini ide konyol Munir tercetus. Ia mengusulkan mencari vokalis sementara pengganti Ira selama ia vakum. Serentak ketiga personil yang lain menolak dan tidak suka kata vakum terucap atas ketidakmauan Ira untuk latihan.
            “Nggak bisa seenaknya cari vokalis sementara dong. Mana kekompakan kita? Harusnya loe tu sebagai anggota JustWe mengerti dong keadaan Ira dan membantu jika Ira sedang ada masalah, tapi apa? Kamu justru mengusulkan ide BODOH !!”, Angga marah begitu mendengar ide yang baru saja Munir sampaikan malalui mulutnya dengan tampang tanpa dosa.
            “TERSERAH ! gue keluar dari band ini. Muak gue!”, Kemarahan Munir pun menjadi-jadi.
            “Silahkan,kita juga nggak butuh pengkhiatan kayak…….”
            “STOOOP !!”, Tiba-tiba terdengar teriakan dari ujung sehingga memotong kata-kata yang hendak Angga lontarkan pada Munir.
            “Kalian ini satu tim. Harusnya kalian tu kompak dan solid.”, Ucap Lia yang berhasil menenangkan suasana di sebuah ruangan kecil yang biasa disebut studio.
            Suasana hening kini menyelimuti sebuah ruangan studio yang seharusnya ramai dengan suara petikan gitar, dentuman bass dan pukulan drum. Angga menundukkan kepala dan menyesal dengan apa yang telah ia lakukan keada Munir dan Munir pun menyesali dengan ide yang tak sengaja ia sampaikan sehingga membuat kekacauan. Sebenci-bencinya Munir pada Ira,ia pun menyadari bahwa band yang sudah dua tahun berdiri ini tak akan menjadi seperti saat ini jika tanpa adanya Ira sebagai vokalis yang selalu berusaha tampil prima dan maksimal.
            Ira berhasil membuat JustWe diambang perpecahan. Ia pun berhasil selama hampir sebulan menyendiri dan Ira juga berhasil menurunkan prestasi yang selama ini ia dapatkan. Peringkat dikelas turun, peringkat parelel pun turun tiga kali lipat yang biasanya mendapatkan peringkat 5 paralel kini harus mendapat peringkat 15 pararel.
            Akhir-akhir ini Ira memang tak punya semangat belajar. Bahkan semangat berangkat sekolah pun luntur. Semanjak sepi yang melandanya tempo lalu. Ia hanya termenung dan membayangkan betapa bahagianya jika mamanya menemui dan mengajaknya jalan-jalan ke mall layaknya mama dan anak yang dilakukan orang kebanyakan.
            Bel pulang sekolah berbunyi namun Ira tak segera menuju parkiran. Ia malah menuju sebuah pohon kelengkeng di halaman sekolah yang kala itu sedang berbuah.tak banyak memang anak-anak yang menginginkan berada di bawah pohon kelengkeng yang sudah sangat tua untuk bercengkrama atau hanya sekedar duduk santai.
            “Ra,apa yang kamu lakukan di situ?”, sapa Tika yang kebetulan lewat pohon kelengkeng yang ada Ira dibawahnya termenung dengan pensil dan sebuah kertas di tangannya.
            “Aku sedang berbicara dengan seseorang yang sangat spesial.”, jawab Ira dengan sedikit senyuman yang tulus.
            Tika hanya berlalu mendengar jawaban Ira yang ngaco. Tak digubrisnya apa yang sedang Ir alakukan sebab ia juga terburu-buru akan menghadiri rapat OSIS di ruang 20. Setelah berada lima meter dari arha dimana Ira duduk,Tika baru tersadar bahwa apa yang dilakukan Ira tak masuk akal. “Gimana bisa dia berbicara dengan orang spesial sedang disekitarnya tak ada satu pun orang yang dapt ia ajak berbicara kecuali aku yang sempat mengajaknya bicara. Tapi apakah aku yang dimaksud orang spesial itu? Ah mana mungkin. Lalu siapa?”, Tika bergumam dalam hati karena baru menyadari ada yang aneh dengan Lia.
            Tika memutuskan untuk kembali dan menemui Ira yang masih termenung sambil sesekali senyum tipis di bawah pohon kelengkeng yang sangat sejuk. Ia tak menyapanya dari jauh melainkan langsung duduk di samping kanan Ira dan melihat apa sebenarnya yang Ira lakukan. Ternyata kertas yang Ira bawa berisi dialog-dialog yang cukup panjang. Antara Ira dan mama. Ya mama. Dalam kertas itu bertuliskan Ira dan mama Ira.

Ira       : “Ma Ira nemuin foto mama waktu masih seumuran Ira. Ternyata mama cantik ya? Tapi Ira tak berhasil nemuin foto mama sekarang. Kira-kira mama masih cantik nggak ya?”

 
           






Janggal. Benar-benar janggal. Kenapa Ira tak mengetahui rupa wanita yang selama ini mengasuhnya. Wanita yang rela mati hanya untk keselamatan anaknya. Aneh. Ini benar-benar aneh. Begitulah otak Tika berfikir setelah membaca dialog-dialog yang ada dalam kertas genggaman Ira.
            “Ra, memangnya mama kamu dimana? Ke luar kota ya?”, Tika memulai sebuah percakapan.
            “Mamaku jauh sekali dan aku nggak tahu dimana Beliau berada sejak aku belum mengenal kata belum.”, jawab Ira dengan tetesan air mata yang menetesi kertas yang ada di tangannya.
            “Loh kok?”, Tika terkejut, heran dan mati penasaran.
            “Aku memang tak pernah melihat wajah orangtuaku sejak aku hidup di dunia ini. Bahkan foto mereka pun aku tak punya. Huhuhuhuhuhu.”, tangisan Ira kini meledak dan airmatanya membasahi baju putih Ira.
            “Tapi dalam kertas itu kamu menulis ….”, belum sempat Tika menyelesaikan pertanyaannya karena tipe orang yang mempunyai rasa penasaran yang tinggi, Ira sudah menjawabnya.
            “Memang,sekarang aku punya fotonya tapi mugin ini sudah 20 tahun yang lalu saat mamaku duduk di bangku sekoah menengah pertama.”, seraya menyerahkan foto kusam kepda Tika.
            Ira tak mampu menahan kesedihannya. Ia meluapkan semuanya kepada Tika, salah satu teman yang ia percayai. Ira menceritakan semuanya kepada Tika,mulai dari kesepian itu,hingga kesedihan ini.
            Tika memaklumi. Ya .. Tika sangat memaklumi bila akhir-akhir ini Ira banyak menyendiri, melamun dan kadang tersenyum sendiri. Ini tekanan batin dan mungkin bila Tika yang berada dalam posisi Ira Tika sudah nekat mengakhiri hidupnya karena tak mampu mengahadapi semua ini. Namun lain dengan Ira,ia gadis kuat dan tegar, walau terkadang ia merasa tak mampu toh akhirnya ia juga mampu menahan diri unutk tidak melakukan hal ceroboh seperti Tika bila berada pada posisinya.
            “Mama kamu cantik Ra. Jangan sedih lagi ya, suatu saat kamu pasti akan bertemu Beliau. Kamu ini gadis pintar Ra,percuma jika kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan menganggurkan potensi yang kamu miliki. Bangkitlah Ra dan buktikan kepada mamamu bahwa perjuanganmu itu secantik wajah mamamu.”
            Hati Ira luluh dan memantapkan tekadnya untuk kembali menjadi anak yang produktif dengan menganggukkan kata-kata Tika seraya berkata “YA”.

Bukankah....

Malam pembaca setia blog saya..
Malam ini saya nak cerita tak banyak, hanya saja malam ini uswa mau bertanya lantas apa maksud 'perkataan' seseorang itu selama ini..

Oke aku mengerti ini semua keputusanku kita hanya teman, ya hanya teman. Namun 'perkataan' itu tak akan pernah ku lupakan. Biar kelak radarku yang akan kembali menemukan getaran itu, melalui perantara seperti kemarinkah? Atau justru radarmu yang akan mencari getaran itu lagi? Atau waktu yang akan membawanya kembali? Entahlah..

Aku senang, senang sekali malah.. Lega semua tak ganjil lagi.. Ku tunggu setiap kabar darimu dan..
Aku menunggu sampai kesiapanmu itu benar-benar terbukti.. Dan kau hadir kembali...

Bukankah cinta itu soal perbuatan? Bukan hanya perkataan? Aku lebih percaya takdir Tuhan.

Rabu, 08 Mei 2013

Perahu Kertas (#uswa)


Selamat sore reader, postingan saya kali bertemakan uswa dan kesedihan uswa serta cara uswa melampiaskan sedihnya itu *ihh

Biasanya aku tu kalo lagi sedih atau senang atau bagaimana perasaannya sukanya nulis, hal itu dimulai sejak usia dini. Aku inget pertama punya diary tu waktu SD, oh iya aku pernah buat sebuah lagu lho dalam diary itu, kalo nggak salah inget tu judulnya “indah pemandangan alam” ini nih lirik yang masih ada dalam ingatan sayaa....

Indah indah pemandangan alam..
Indah indah pemandangan alam
Indah indah pemandangan bulan dan bintang...
Pemandangan alam itu indah karena..... *tetot  habis lirik ini saya lupa*

Dengan nada dan not  yang tak begitu indah padahal judul lagunya indah hahaha, ternyata bakat juga ya jadi sebuah pencipta lagu ahihihihi *narsis dikit*

Setelah sekaian lama diary itu menghilang, suatu saat waktu beres-beres kamar yang sudah tak layak huni namun tetap saja saya menjadi penghuni setia karna hanya punya satu kamar di rumah yang khusus untuk saya dan nggak ada alasan untuk tak menempati kamar itu. Di bawah baju-baju yang udah lama nggak saya pake nemu juga buku harian yang udah dari jaman purba kali ya... buku merah bersampul gambar kartun ‘spiderman’ dan sampe sekarang aku nggak tahu kenapa mesti gambar spiderman coba, apa alasannya seorang cewek atau lebih tepatnya anak perempuan yang belum cukup umur punya diary dengan sampul nggak masuk akal dan lebih cenderung kepada buku anak laki-laki yang belum cukup umur haha. Bingung juga, tapi nggak pentimg juga sih mikirin alasan kenapa pake buku itu yang setelah aku coba cari lagi bukunya udah nggak ada lagi wkwkw dasar uswa --“

Setelah diatas ngomongin hal yang nggak jelas gitu mending kita langsung bahas kepada sebuah tulisan dan uswa yang suka nulis-nulis nggak jelas gini.

Menurutku menulis itu bukan hal yang mudah lho guys, soalnya bahasa tulisan itu malah kadang sulit dipahami, contohnya aja nulis “makan” sama “makan !” artinya udah beda.  Makan yang nggak pake tanda seru itu bisa berarti kata kerja atau kata benda jikalau ngak disertakan objek/subjeknya *heleh* atau kata apalah gitu, tapi kalo makan yang pake tanda seru itu artinya bisa menyuruh makan dengan nada kasar. Beda kan guys, so bahasa tulisan itu lebih sulit dipahami daripada bahasa yang diucapkan. Apalagi kalo yang ditulis itu tulisan puitis, beeee lebih sulit lagi itu *kalian juga paham kalo itu ya ahihihi*
Walaupun nulis itu sulut tapi aku lebih suka nulis kalo mengungkapkan sebuah perasaan, meluapkan sebuah emosi walau kadang nggak cukup sih kalo cuma nulis aja tapi bagiku menulis itu bisa mengurangi rasa bosan dan ada kepuasan tersendirilah.

Air. Setelah banyak ngomingin nulis dan menulis sekarang aku mau ngajak kalian ke duniaku yang lain, yakni air. Entah kenapa juga uswa kok dolahirin aneh gini, masih gede masih aja suka mainan air, betah deh kalo suruh mainan sama air, suruh hujan-hujanan juga seneng banget, anak kecil banget kan. Ah tapi it’s not a big problem, yang penting seneng :p

Karena saya itu suka banget kalo sama air apalagi sama sungai dan pantai. Walau nggak tiap hari tiap pekan tiap bulan ke sungai dan ke pantai juga, tapi kalo udah ada di pantai rasanya tu seneng banget, suara ombaknya yang damai, airnya yang banyaak dan warna biru yang menjulang begitu indahnya. Subhanallah banget deh :) dan ternyata pantai membawa kenangan tersendiri untuk saat ini *eh. Dan kalo untuk sungai yang aku suka dari sungai tu kalo sungai yang mengalir dan nggak begitu dalam. Jadi sungai yang dangkal tapi ada sebuah aliran yang mendamaikan hati. Dan bagiku sungai itu mampu membawa pergi semua yang nggak diinginkan. Karena apa? Akan saya kupas nanti dibawah...

Udah tahu kan sekarang kalo uswa tu suka air, hujan, dan nulis. Yang kalian belum tahu adalah soal perahu kertas. Uswa dari dulu hobi lho buat perahu kertas kalo pas lagi hujan...

Dulu ketika hujan belakang rumahku kalo hujan tiba dan deras sekali tu ada danau kaget *dadakan maksudnya* dan bagus banget kalo untuk melayarkan sebuah perahu, perahu kertas lebih tepatnya. Waktu aku masih kecil, kalo hujan dan agak banjir gitu didepan dan belakang rumah aku dan adekku (Ja’far Shodiq) suka banget kalo suruh buat perahu kertas dan dilayarkan bersama. Kalo nggak dilayarkan didepan rumah ya di danau dadakan itu.

Tuntas sudah pengantar bahasan yang bersangkutan dengan judul postingan saya kali ini. About air, sungai, pantai, nulis, melampiaskan sebuah perasaan, dan perahu kertas.
Kini saatnya ke bahasan inti “PERAHU KERTAS (#USWA)”

Perahu kertas (#uswa) ini terinspirasi oleh sebuah film dengan judul sama (tanpa #uswa tentunya hehe). Yaa dalam cerita itu si cewek suka banget nulis surat kepada Neptunus yang akhirnya surat itu dibuat perahu kertas dan dilayarkan.

Sejak nonton film itu saya jadi menemukan cara lain unutk melampiaskan bahkan mengungkapkan semua perasaan yang ada dalam sebuah kertas yang nantinya akan berwujud perahu kertas... kenapa bisa seperti itu? Seperti yang sudah diuraikan diatas, aku tu suka nulis, suka air, pantai, sungai, hujan, buat perahu kertas dan melayarkannya dengan alasan nggak jelas awalnya. Namun kini sedikit menemukan alasan untuk saya lakukan lagi hobi gila itu.

Perahu kertas #1 tertanggl 24 Februari 2013
Ini ada hubungannya sama postingan saya "A Thousand Years" A Thousand Feel (silahkan baca bagi yang belum baca) dan sepertinya tidak perlu saya ulangi lagi bagaimana ceritanya. Initinya dalam perahu kertas #1 kali ini bahwa uswa mengungkapkan sebuah perasaan secara terang-terangan untuk pertama kalinya. Wooow deg-degannya nggak berhenti-henti bung.

Senin, 15 April 2013

"A Thousand Years" A Thousand Feel

Guys, pastinya udah pernah dong ya punya kenangan sendiri dengan sebuah lagu? kali ini saya mau berbagi cerita soal sebuah lagu juga dan postingan kali ini saya kasih title "A Thousand Years" A Thousand Feel. karena apa? karena ini menyangkut lagunya Cristina Perry A Thousand Years dan seribu perasaan yang aku alami. Jadi gini nih ceritanya.....

24 Februari lalu, aku ada kencan sama temen mau liat sunrise di sebuah pegunungan yang nggak jauh dari rumah tapi gagal pemirsah, manusia memang hanya benar2 bisa berencana... terus mewek deh :'( padahal its not a big problem lhoo, aneh ya hahaha *lupakaaan* tapi serius lho ini nangis bukan karena kegagalan liat sunrisenya, tapi sampai saat ini ya nggak ngerti karena apa hehe.
Tapi karena orang yang sedang kagol itu mudah emosi aku sempet bales sms dia hanya dengan dua huruf "Ya" padahal dia smsnya lumayan panjang. Aku pikir nggak bakal ada lagi balasan dari dia, eh ternyata dia bales lagi dan dengan balasan yang cukup panjang dan membuat aku nggak enak hati. Sabar bener dia (Makasih ya)

Lanjut... pukul 10.00 WIB dia tu ngomong sesuatu dan jujur soal balasan dua hurufku tadi pagi dan aku berinisiatif untuk menebus kesalahanku dengan mengajaknya sore nanti main ke sungai dan melakukan hal gila bersama uswa *nama orang aneh sekaligus langka*
Tapi sekali lagi saya tegaskan bahwa manusia memang hanya bisa berencana namun hanya Allahlah yang berhak membuatnya menjadi nyata.

Sore itu ternyata hujan dan planingku gagal juga deh akhirnya hiks :'( padahal hal gila yang akan aku lakukan tu membuat perahu yang nantinya diisi sebuah tulisan gitu, terus dilayarkan bersama-sama. Padahal sore itu aku udah bikin perahu yang bakal gue layarin. Isinya tu.. *secret* yang jelas isinya tu ada curhatan gue dan sebuah kata2 seperti ini :

"Cinta bukan bagaimana kita meminta untuk diberi, namun cinta bagaimana kita memberi tanpa harus diminta"

dan semua dari tulisan yang saya tulis dalam kertas yang sudah berwujud perahu harus saya bongkar dan bacakan saat telfonan sama teman saya itu...
Sebenarnya ada satu kata penutup dalam surat itu tapi ini rahasia kita dan Allah kalian para pembaca dilarang tahu :D ahihihi

dan setelah itu dia kirim message sepenggal lirik lagu di bawah ini. Ingat nggak semua dikirim, hanya sepenggal saja (yang saya bold)

Lampiran : Lirik Lagu Cristina Parry "A Thousand Years"


Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I’m afraid to fall
Watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more

Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
Standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more
One step closer
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more


Sekian cerita dari saya, selesai diketik pukul 22.39 15 April 2013

Minggu, 14 April 2013

Cerita Mawar Merah


Mawar merah tu identik dengan apa ya? biasanya sih kalo di tivi-tivi *ngomongin di TV lho ini* kalo cowok mau nembak cewek biasa pake bunga yang satu ini nih, mawar merah. Belum pernah kan liat film romantis yang kalo cowok nembak cewek pake edelweiss haha *tapi boleh dicoba juga tuh, jadi inspirasi* hahaha

Saya ada cerita nih tentang mawar merah yang ada diatas itu. Kemarin, tanggal 02 April 2013 tepatnya malam rabu ada cowok ganteng *katanya* bukan pacar gue *faktanya*. ceritanya gini nih......

Sebelum malam tanggal 02 April, malam tanggal 31 Maret tepatnya malam minggu *ehemm* dia tu diajak bima (Satrya Bimantara) temen seperjuangannya semasa SMP untuk beli mawar di pasar kembang *lhoh enggak deng di kota baru *kayaknya*. Ceritanya si Bima mau nembak cewek, terus si Dia mau mau aja tu suruh nganterin haha. Oleh karena kebaikannya itu akhirnya si Bima memberikan sedikit imbalan berupa Mawar Merah, aneh nggak sih cowok ngasih cowok mawar haha tapi gue percaya kok Bim loe tu nggak maho kan itu tujuan beli mawar udah jelas tertera diatas :P

Terus setelah mendapat setangkai mawar dari bebeb cowoknya Dia pulang, habis itu ngambil suatu tempat yang kalo dikasih air nggak bocor dan cocok untuk menyimpan mawarnya (kayaknya sih gitu, cerita tepatnya kagak tau ahihihi)

Jeng jeng..... cerita tanggal 020413 akhirna tiba juga. ehemm mulai dari yang mana nih, bingung bigung bingung *lebaay*. Sebenarnya kronologinya tu gini nih pemirsah, eh pembaca deng. Embanknya dia kan beli pulsa ditempaku, dan belum bayar. Nah dia bermaksud mau bayarin sorenya pas pulang ngajar TPA tapi aku keburu pulang jadi nggak sempet ketemu. Dan malamnya sewaktu saya pulang ngaji, dia mau beli senar gitar, kita ketemuan. Aku nggak mau dong ya menyia-nyiakan kesempatan untuk ketemu soalnya tadi selain mau bayar pulsa dia juga mau ngasih mawarnya. Dan aku memutuskan menunggu di jalan deket gapura desa saya, soalnya aku bawa bawaan yang nggak bisa aku tinggal, naini temen ngaji gue.

Saat-saat penyerahan akhirnya tuba juga, pertama uangnya dulu, terus baru bunganya, yaa walau kata naini cara pemberiannya nggak so sweet, tapi its not ig problem. Loh justru ini cara yang nggak orang-orang lakukan. Its different, lain dari pada yang lain. Ya nggak ya nggak ahahaha. Setelah 5 menit berlalu, aku harus cus dan dia pun juga harus cus. Dan tau nggak, saat ngaji kitab ini mawar masih tak bawa karena saya nggak sempet pulang.

Sesampainya di rumah, mumpung masih ada camera *pinjeman* gue memutuskan berfoto dan ini dia hasil foto-fotonya ahihihihi

ini yang sudah saya campur aduk :D



Hasil foto ditimer, soalnya nggak ada yang motoin :)

Mawarnya tampak atas
hehe :)

Girang atau apa ini (?)

:')

Hanya beberapa saja yang saya upload, yang lainnya merupakan Secret Dokumen milik Uswa. Sekian postingan dari saya, apabila banyak salah dan menimbulkan sakit di hati pembaca saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dan apabila ini cukup menghibur pembaca ya saya cukup senang :) Assalamu'alaikum......
Selesai, pukul 10.47 di depan komputer tersayang 15 April 2013.

Kamis, 25 Oktober 2012

IKATAN KIMIA (BENTUK MOLEKUL & BENTUK GEOMETRI)


 
  I.      BENTUK MOLEKUL & BENTUK GEOMETRI
Bentuk molekul & bentuk geometri merupakan bentuk dari ikatan kovalen pada atom pusat. Ada 2 cara menentukan bentuk molekul dan geometri
·    VSEPR
o Melihat bentuk molekul dari jumlah pasangan elektron ikatan (PEI) dan pasangan elektron bebas (PEB).
o Untuk tipe molekul digunakan rumus sebagai berikut:
A Xn Em
A : atom pusat
n : jumlah PEI (atom pusat)
m : jumlah PEB (atom pusat)
·    Hibridisasi
o Dengan melihat letak elektron yang berikatan.
o Contoh: CH4
↑
↑

Atom pusat = 6C → 1s2             2s2                2p2
↑↓
↑↓


Atom H yang berpasangan dengan C memiliki masing-masing 1 elektron yang akan berpasangan. Jika dilihat dari gambar maka atom C hanya memiliki 2 buah elektron yang dapat berpasangan sedangkan yang dibutuhkan adalah 4. maka atom C merubah susunan elektron menjadi :
          1s2             2s1                  2p3

↑
↑
↑
↑
↑↓


Dengan demikian, atom C sudah memiliki 4 buah elektron yang dapat berpasangan. Dari situ dapat ditentukan orbital hidridanya adalah sp3 dengan bentuk geometri tetrahedron.
Orbital hibrida
Bentuk geometri
sp
Linear
sp2
Segitiga samasisi
sp3
Tetrahedron
sp3d
Bipiramida trigonal
sp3d2
Oktahedron
               

 II.      IKATAN HIDROGEN
·    Merupakan ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom yang mempunyai beda keelektronegatifan besar (N, O, F)
·    Dengan adanya ikatan hidrogen menyebabkan titik didih tinggi.
·    Prinsip ikatan hidrogen
o Semakin besar kelektronegatifan maka semakin polar (kelektronegatifan unsur bisa dilihat pada sifat-sifat SPU bab sebelumnya)
o Semakin polar maka titik didih makin tinggi
o Molekul yang mengandung ikatan hidrogen memiliki titik didih lebih tinggi.

III.      IKATAN VAN DER WAALS
·    Terjadi pada:
o Antar molekul yang mempunyai perbedaan keelektronegatifan sangat kecil.
o Antar molekul yang mempunyai perbedaan keelektronegatifan dengan molekul yang tidak mempunyai keelektronegatifan
o Antar molekul yang tidak mempunyai perbedaan keelektronegatifan
·    Prinsip ikatan van der waals
o Terjadi gaya tarik-menarik pada senyawa yang punya muatan, biarpun kecil.
o Gaya dispersi / london terjadi pada ikatan polar dan non polar
o Gaya tarik dipol terjadi pada ikatan polar.