Kamis, 31 Oktober 2013

Resensi Buku

Kebahagiaan Sederhana di balik Gelap, Sunyi, Senyap
Uswatun Hasanah/XI IPA 2/34

Judul               : Moga Bunda Disayang Allah
Pengarang       : Darwis Tere-Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : VIII, Januari 2011
ISBN               : 979321079-6
Tebal               : 306 halaman

            Darwis atau lebih dikenal dengan Tere Liye telah berhasil memikat fansnya melalui berbagai judul novel nan sarat makna diantaranya Hafalan Sholat Delisa, Rembulan Tenggelam Diwajahmu, Bidadari-Bidadari Surga, dan masih banyak lagi. Pria kelahiran 21 Mei 1979 ini seperti tak urung kehabisan ide untuk berkarya.
            Kali ini dalam novel yang berjudul Moga Bunda Disayang Allah, Darwis mengangkat kisahnya dari kisah nyata Hellen Adams Keller yang sebenarnya tidak terlahir buta dan tuli (sekaligus bisu), namun ketika berusia 19 tahun semua keterbatasan itu datang. Berkat kepiawaiannya dalam merangkai kata-kata Darwis berhasil membuat pembaca novel Moga Bunda Disayang Allah enggan beralih dari tempat bacanya. Alur campuran yang ia tuangkan juga berhasil menarik rasa penasaran yang kuat bagi pembaca setianya. Disisi lain bagi para pembaca pemula alur campuran tersebut justru akan membuat pemahaman jalan ceritanya berkurang sebab membingungkan.
            Penggambaran setting oleh pengarang yang detail membuat pengimajinasian pembaca nyaris sempurna sama persis. “Kamar itu seharusnya terasa lapang. Apalagi dengan langit-langit tinggi. Tapi nyatanya pengap.” (hlm. 11). “Buku-buku beserakan disekitar ranjang tua. Tidak terurus. Digigitin kecoa, dikencingi tikus. Pakaian kotor bergelantungan di dinding jadi tempat favorit bersembunyi. Jeans belel. Kemeja kumal. Kaos cokelat--kotor, bukan karena warnanya memang cokelat. Sebuah mesin ketik tua tergeletak di atas meja kecil. Disebelahnya berdiri termos air berwarna hitam. Juga gelas kecil bermotif snoopy. Sisanya berantakan. Pengap.” (hlm. 12). Perangkaian kata-kata tersebut seketika memunculkan visualisasi yang begitu nyata.
            Bagi pecinta sastra, kata-kata puitis nan indah dalam novel Moga Bunda Disayang Allah akan dengan mudah masuk dalam benaknya juga menambah kenyamanan ketika membaca. Lain mata lain pula pemahamannya, bahasa yang puitis justru membuat sulit dipahami oleh pembaca bertaraf pemula, padahal titik nilai pembelajaran dalam novel tersebut banyak tersirat dalam kata-kata puitis tersebut. Sebagaimana kata-kata yang Karang tuliskan melalui mesin ketik tua miliknya “Ibu, rasa nyaman selalu membuat orang-orang sulit berubah. Celakanya, kami sering kali tidak tahu kalau kami sudah terjebak oleh perasaan itu”. (hlm. 140).
            Cara pengarang menyampaikan makna kata asing pun begitu unik. Pengarang menjelaskan makna kata tersebut dengan menggunakan tanda “--“ di sampingnya. Seperti saat ia mengartikan makna Tadoma. “…dengan metode Tadoma--bicara dengan gerakan tangan, meneyntuh bibir dan leher orang lain, ….” (hlm. 277). Bagi yang tidak mengerti maksud tanda “--“ pastinya akan merasa kebingungan. Jadi akan lebih baik jika dalam novel ini mencantumkan foot note.
            Gadis mungil, berambut ikal, bernama Melati dalam novel ini bertakdir malang. Di usia yang baru menginjak 6 tahun ia harus kehilangan penglihatan, pendengaran sekaligus ia harus mengalami kebisuan. Semua itu terjadi tiga tahun silam ketika Melati bersama keluarganya liburan musim panas di pantai dan brisbee, piringan terbang berwarna merah itu menghantam dahinya.
            Darwis amat cerdik dalam menciptakan klimaks. Begitu mengena dan membuat pembaca berseru “wao” saat membacanya, sebab tak menyangka jika klimaks dalam novel Moga Bunda Disayang Allah akan semengejutkan  ini.
            Klimaks dalam novel Moga Bunda Disayang Allah mulai muncul saat pengarang mulai memflashback kejadian 3 tahun silam yang dialami Karang sosok pemuda yang sebenarnya berhati tulus dan mampu mengukir senyum serta semangat di hati anak-anak. Karang terngiang-ngiang 18 anak yang tewas di lautan lepas saat bertamasya bersamanya dan relawan taman bacaan lainnya. Karang menjadi saksi kepergian seorang gadis yang begitu dekat dengannya. Qintan. Ia pergi dalam dekapan Karang. Hal itulah yang membuat Karang merasa begitu bersalah dan kini menjadi sosok yang urakan, pendiam serta pemabuk.
            Kehidupan Karang berubah atau lebih tepatnya kembali seperti dulu saat ia berjumpa dengan Melati. Kesadaran itu kembali datang. Kerinduan. Kerinduan kepada ayah-ibu, kerinduan atas hidup yang lebih baik. Kekuatan Karang kembali. Ia pun memutuskan untuk mengajari Melati bagaimana cara agar ia dapat mengenal dunia melalui sentuhan tulus tangannya.
            Nilai tak langsung yang digambarkan dalam novel ini namun begitu jelas untuk dapat dimengerti ialah nilai kehidupan. Disini digambarkan betapa beratnya hidup ini dan ketika sabar dan mampu melaluinya pasti akan ada kemudahan, kehidupan yang seolah tak adil  tetapi penulis mampu menjelaskan melalui kisah seorang gadis bisu, tuli sekaligus buta ini bahwa sungguh hidup ini adil jika kita mampu menemukan titik keadilan tersebut.
            Novel ini tak terlepas pula dari kisah asmara dua insan manusia. Kisah asmara antara Karang dan Kinasih juga tergambar dengan menarik dan tidak monoton, lain daripada yang lain.
            Kisah dalam novel setebal 306 ini berakhir haru bahagia ketika Karang berhasil membuat Melati mampu mendengar tanpa telinga, melihat tanpa menggunakan mata serta mampu berkomunikasi melalui tangan ajaibnya. Kebahagiaan sederhana seorang gadis tuli, buta sekaligus bisu yang dulu hanya mampu merasakan sunyi, lengang, senyap dan hanya melihat hitam, gelap tak ada warna, kini ia mampu mengenali dunia melalui perantara sentuhan tulus pengajaran Karang.
Nama : Uswatun Hasanah
Kelas  : XI IPA 2
No      : 34
            Novel yang sarat makna dan nilai kehidupan karangan Tere Liye dengan judul Moga Bunda Disayang Allah ini sangat pas dibaca untuk kalangan yang sedang merasa terpuruk, kurang motivasi dan kehilangan semangat hidupnya.