Minggu, 19 Mei 2013

Cantinya Mamaku Secantik Perjuanganku (Cerpen)


Pertandingan basket antar kelas saat class meeting SMA N 2 Sejahtera dimenangkan oleh kelas XI IPS yang dikapteni Irawati. Kemenangan ini mengukir senyum di wajah para pemain, namun tidak untuk sang kapten. Setiap hari Ira memang terkenal dengan senyum yang selalu terukir di wajahnya, namun siapa sangka jika senyuman yang selama ini ia tebarkan hanyalah tipuan. Selama ini dalam hati ia selalu menaruh rindu yang mendalam.
            Sebotol air putih yang dibawa Ira tiba-tiba terjatuh di lantai beserta tubuh Ira yang mungil. Anak-anak basket yang berada didekatnya segera mengambil tindakan dan membawanya ke UKS sekolah. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Ira akhir-akhir ini dan tidak biasanya setelah pertandingan dia pingsan.
            Guys,nggak biasanya Ira pingsan kayak gini?”, tanya Tika seusai membaringkan tubuh mungil Ira di kasur UKS.
            “Iya,nggak bisanya. Apa jangan-jangan Ira sakit? Tapi kenapa maksa ikut pertandingan?”, Jawab Lia teman sebangku Ira penasaran.
            “Ma..Maa.. jem..put I..ra Ma.. I..ra ke..sepi..an.”, terdengar suara lirih dari bibir merah Ira beserta setetes air mata yang cukup jelas untuk didengar teman-temannya.
            “Alhamdulillah,..bangun Ra. Ini minum dulu.”, sapa Lia seraya mengulurkan segelas air putih.
            Setelah tersadar dan meminum segelas air pemberian Lia segeralah Ira bangun dan hendak menuju ke kelas, namun teman-temannya melarang sebab Ira masih pucat dan jalannya pun masih sempoyongan.
            “Istirahatlah dulu Ra”, ucap Lia penuh perhatian.
            “Aku mau ke kelas Li dan segera pulang. Aku nggak papa kok.”, ucap Ira meyakinkan Lia bahwa keadaannya sudah membaik.
            Lia tak dapat berkata apa-apa dan membiarkan Ira ke kelas mengambil tasnya dan menuju parkir sepeda SMA 2 Sejahtera yang memang menjunjung tinggi aksi cinta lingkungan dengan menyediakan parkir sepeda yang luas dan indah serta menganjurkan siswa yang rumahnya tak lebih dari 8KM untuk menggunakan sepeda ke sekolah.
            Hening. Di rumah, Ira memang selalu kesepian oleh karenanya dia jarang untuk pulang pagi dari sekolah karena biasanya dia mengahabiskan waktunya sampai sore di sekolah. Entah untuk mengikuti pembinaan olim kebumian-lah, rapat DA-lah, rapat PMR-lah, atau pun untuk ekstra musik. Ira memang sangat berbakat dalam bidang musik,selain suaranya yang merdu ia juga pandai bermain piano dan gitar.
            Prestasinya dalam bidang musik juga beragam mulai dari juara 1 paduan suara sekabupaten saat TK, juara 3 provinsi lomba macapat saat SD, juara harapan 2 tingkat nasional nyanyi saat SMP, dan prestasinya terakhir adalah juara 3 band tingkat nasional. Ira merupakan vokalis cewek dari band JustWe yang beranggotakan Musthofa di bass, Aji pegang di melodis, Angga di ritmis, dan Munir di Drum. JustWe sudah berhasil menciptakan 3 buah lagu yang berjudul Biarlah, Cinta Pertama dan Pengabdian.
            Prestasi Ira bukan hanya dalam bidang musik saja, namun prestasi dalam intrakuliler pun tak kalah ketinggalan. Ira pernah menjuarai OSN Matematika tingkat kabupaten sewaktu masih menduduki bangku kelas X, namun kini Ira bebalik haluan untuk mengikuti OSN kebumian dan beruntungnya gadis mungil nan manis ini terpilih untuk mewakili OSN kebumian di kabupaten. Keberuntungan itu bukan semata karena keberuntungan dari dewi fortuna melainkan Ira mamang anak yang rajin dan pantaslah jika ia terpilih untuk mewakili OSN kebumian tingkat kabupaten.
            Pagi ini Ira ada jadwal untuk mengikuti audisi band. Ya..walau hanya audisi band tingkat provinsi namun Ira selalu ingin tampil semaksimal mungkin karena tak ingin mengecewakan para fans JustWe yang kabarnya sudah menyebar ke penjuru dunia (si penulis sedikit lebay haha :D). Pagi-pagi buta Ira sudah menyetrika baju yang hendak ia kenakan dan dandan seperfect mungkin. Setelah jam menunjukkan pukul 07.30 segeralah ia berangkat dengan sepeda kesayangannya menuju rumah Musthofa.
            Sesampainya di rumah Musthofa Ira segera memarkir sepedanya dibawah pohon mangga dan menuju ke sebuah ruangan dimana Aji,Angga dan Munir sudah menunggunya.
            “Maaf telat. Banyak kerjaan tadi.”, Kata Ira dengan nafas terengah-engah.
            “Iya gapapa. Maklum loe kan cewek,pasti banyak kerjaan yang mananti. Hahahahaha”, Canda Angga yang memang anaknya humoris.
            Puas si Angga, Aji, Munir dan Ira bercanda segeralah mereka menuju mobil Aji dan melesat menuju sebuah universitas yang mengadakan audisi band untuk acara hiburan pra-MOS-nya kelak.
            “Waahh. Ini kampus gede banget ya bro!”, Ira yang tak pernah keliling-keliling melihat suasana luar desanya kagum melihat kampus yang sangat besar.
            “Gausah norak deh Ra,kayak ga pernah liat aja.”,Bentak Munir kesal dengan keudikan si Ira.
            Ira sangat sebal kalau mulut Munir yang sinis itu berkata. Ira dari awal memang ga suka kalau harus Munir yang menjadi drummer JustWe karena sifat Munir yang sangat kontras dengan mereka bertiga. Si Aji yang sifatnya cool abis tapi jujur apa adanya, Si Musthofa yang gokil, humoris dan menerima teman apa adanya, Si Angga yang sok kegantengan layaknya Joshapat ‘KMI’ tapi selalu terbuka, super lucu dan super humoris. Si Ira cewek yang lucu,murah senyum,gokil dan apa adanya dengan kondisinya, sedangkan Si Munir sok kecakepan, munafik, judes dan garing abis. Akan tetapi Ira,Aji dan Angga selalu menerima apa adanya sifat yang dimiliki Munir karena jika tanpa Munir apalah jadinya JustWe.
            Akhirnya kumandang adzan dhuhur bergema. Segeralah Aji, Angga, Ira dan Musthofa mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dhuhur di masjid kampus. Sebelum Ira pisah dengan Aji dan kawan-kawan karena jenis kelamin mereka beda dan otomatis tempat wudhunya pun beda, sempat terjadi perdebatan kecil antara Ira dan Musthofa.
            “Eh Ra hati-hati lhoo sendirian. Ada katak di tempat wudhunya. Hahaha”, Musthofa berusaha menakuti Ira yang memang pobia terhadap katak.
            “Eh.. mana ada katak di kampus elit kayak gini. Gausah nakut-nakutin deh (:P).”, kata Ira sambil teriak berusaha meyakinkan diri bahwa tidak mungkin ada katak di kampus seelit ini.
            Seusai sembahyang dan berdoa mereka berkumpul lagi di depan masjid dan bersiap untuk tampil karena dari tadi pagi mereka belum tampil sebab nomor undian mereka menunjukkan angka 59 yang artinya itu nomor 3 dari belakang.
            “Ngga. Bisa-bisa kita tampil udah malem dan orang-orang pada pulang karena udah malem terus kita tampil nggak ada penontonnya dan itu nggak asyik banget dan kita kan terbiasa dilihat banyak orang. Huhuhu gimana ini?”, Gaya alay Ira kambuh karena sudah lumutan menunggu panggilan nomor undiannya untuk tampil.
            “Terus gue harus bilang waow. Hahahahaha. Alaynya nggak usah kambuh dong Ra. Plis deh ah.”, Angga membalas kealayan Ira dengan gaya alaynya.
            Tak terasa kini waktu menunjukkan pukul 17.00 p.m. Seusai melaksanakan kewajiban sholat ‘ashar mereka memutuskan untuk makan karena cacing dalam purut mereka telah berdendang ikuti irama kelaparan yang diderita.
            Dugaan Ira ternyata benar. Mereka tampil seusai ‘isyak. Tepatnya pukulnya 20.00 p.m namun dugaannya sedikit meleset. Orang-orang masih banyak bertebaran di wilayah kampus dan penampilan mereka pun maksimal, mantap dan tak mengecewakan para juri.
            Ira sampai di rumah diantarkan Musthofa dengan mobilnya karena ia tak tega membiarkan gadis mungil ini pulang sendirian malam-malam dengan sepeda.
            “Besok sepedanya aku bawa sekolah dan kamu bisa ambil setelah pulang. Jadi nggak perlu mengambilnya di rumahku. Oke ?” , Pesan Musthofa kepada Ira setelah tiba di rumah Ira.
            “Oke bro. Aku masuk dulu ya. Daa.”, Jawab Ira dengan singkat karena tubuhnya sudah lelah, dan mengantuk lemas.
            Paginya Ira harus bangun pagi karena ia harus berangkat sekolah jalan kaki sebab sepedanya berada di rumah Musthofa. Pukul 05.50 a.m Ira sudah mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju sekolah tempat ia biasanya mencari ilmu.
            Di sepanjang jalan memang sepi dan Ira sangat benci dengan kesepian karena sepi itu selalu mengantarkannya pada sebuah kesedihan dan kerinduan yang selama ini ia pendam. Yakni kerinduan kepada sosok yang selalu dibanggakan oleh semua orang. Ibu. Ira sedari kecil memang tak tahu dimana ibunya bahkan foto wanita hebat itu pun ia tak punya. Tak banyak memang yang mengetahui hidupnya yang malang ini. Hanya Angga, Aji, Musthofa, Lia yang tahu dan Ira tak mau semua orang tahu soal ini.
            Air mata Ira tak tertahan lagi. Di perjalanan menuju sekolah ia sempat duduk di kursi dekat taman dan meluapkan kesedihan dan kerinduannya kepada ibu yang telah melahirkannya namun kini tak ia ketahui dimana keberadaannya. Ira memang tak seberuntung teman-temannya yang bisa selalu bersanding dengan kedua orang tuanya,bisa bermanja-manja dengan kedua orang tuanya, tamasya bersama kedua orang tuanya. Sejak kecil bahkan sejak Ira belum mengenal kata kecil ia tak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Selama ini yang merawat dan membesarkannya adalah neneknya.
            Sesampainya di sekolah mata lebamnya yang dapat ia sembunyikan. Muka sedihnya pun tak dapat ia buang ke jalan. Hal itu membuat Lia teman sebangkunya bertanya dengan wajah serius kepada Ira dan Ira hanya menjawab dengan dua kata “nggak papa”. Tak puas dengan jawaban itu Lia terus bertanya kepada Ira dan berharap Ira menceritakan masalah yang dialami kepadanya.
            “Aku nggak papa Lia. Nggak usah tanya lagi. Sebentar lagi Pak Roni masuk kelas!”, Ira dengan nada sedikit marah menutup pertanyaan yang Lia lontarkan kepadanya bersamaan dengan hadirnya Guru Matematika.
            Jam mata pelajaran pertama Ira pun buyar. Hal serupa dialami oleh Lia karena penasaran dengan apa yang membuat Ira yang biasanya semangat dan ceria datang ke sekolah menjadi sedih dan murung bak kain kusut tak terpakai lagi.
            Jam istirahat pun datang. Ira bergegas keluar dan Lia berusaha mengikuti langkahnya namun Ira berusaha unutk mempercepat langkahnya agar Lia tidak menyamai langkahnya. Lia menyerah. Ia sadar Ira sedang tak ingin diganggu dan Lia memutuskan untuk ke perpustakaan dan tidak mengikuti Ira ke kantin.
            Di perpusakaan inilah biasanya Ira berada jika sedang ada masalah dengan teman-temannya atau neneknya. Lain halnya dengan hari ini. Bukannya Ira yang berada di perpustakaan karena terlihat banyak masalah,ini justru Lia yang kebingungan memikirkan masalah Ira dengan menyendiri di perpustakaan sekolah.
            Dipojok kanan tepatnya pada rak buku referensi nampak sosok yang tak asing lagi bagi Lia. Angga. Ya..Angga juga merupakan salah satu dari banyak teman baik yang dimiliki Ira. Lia mendekati Angga dan mencoba menanyakan keadaan Ira. Siapa tahu Angga tahu dengan apa yang dialami Ira.
            “Ngga,tahu kabar Ira nggak?”,Tanya Lia tanpa basa-basi.
            “Enggak. Dari tadi pagi gue belum liat tu batang hidungnya Ira.”
            Ternyata Angga pun tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Ira. Lia pun semakin penasaran. Rasanya ingin sekali memaksa Ira untuk menceritakan apa yang sedang menimpanya hingga merusak hari yang seharusnya bahagia. Rasa penasaran Lia tak sebanding dengan ketakutan yang ia alami. Ia takut kalau ia memaksa Ira untuk menceritakan masalahnya akan membuat Ira marah dan tidak mau lagi berteman dengannya. Akhirnya dibiarkannya rasa penasaran itu sampai bel pulang sekolah berbunyi.
            Lia akhirnya buka mulut untuk memulai pembicaraan dengan Ira karena sejak pagi mereka hanya diam tanpa sapa dan senyum.
            “Ra,pulang bareng yuk. Aku naik sepeda kok.”
            “Nggak mau ah aku mau pulang sendiri aja. Oh ya maaf ya Li dari tadi pagi aku hanya diamin kamu bahkan aku bentak-bentak kamu. Aku nggak maksud gitu kok.”, Papar Ira.
            “Iya gapapa kok Ra,aku juga minta maaf kalau maksa kamu buat cerita dan ingin tahu urusan kamu.”, Jawab Lia dengan raut wajah penyesalan.
            Ira pulang bersepeda sendirian karena menolak ajakan Lia namun Ira tak menyesalinya. Saat ini ia hanya ingin sendiri, sendiri dan sendiri. Keadaan ini membuat Ira sering menyendiri saat sekolah bahkan menolak jika ada temannya yang hendak main ke rumahnya untuk belajar bersama atau sekedar say hello.
            Kebiasaan menyendiri yang dialami Ira telah berlangsung selama seminggu ini. Bahkan saat diajak untuk latihan band pun Ira menolak. Padahal sebentar lagi tutup tahun SMA N 2 Sejahtera akan segera dilaksanakan namun Ira tetap saja menolak untuk diajak latihan. Hal ini membuat para personil JustWe curiga kecuali Munir. Disaat seperti ini ide konyol Munir tercetus. Ia mengusulkan mencari vokalis sementara pengganti Ira selama ia vakum. Serentak ketiga personil yang lain menolak dan tidak suka kata vakum terucap atas ketidakmauan Ira untuk latihan.
            “Nggak bisa seenaknya cari vokalis sementara dong. Mana kekompakan kita? Harusnya loe tu sebagai anggota JustWe mengerti dong keadaan Ira dan membantu jika Ira sedang ada masalah, tapi apa? Kamu justru mengusulkan ide BODOH !!”, Angga marah begitu mendengar ide yang baru saja Munir sampaikan malalui mulutnya dengan tampang tanpa dosa.
            “TERSERAH ! gue keluar dari band ini. Muak gue!”, Kemarahan Munir pun menjadi-jadi.
            “Silahkan,kita juga nggak butuh pengkhiatan kayak…….”
            “STOOOP !!”, Tiba-tiba terdengar teriakan dari ujung sehingga memotong kata-kata yang hendak Angga lontarkan pada Munir.
            “Kalian ini satu tim. Harusnya kalian tu kompak dan solid.”, Ucap Lia yang berhasil menenangkan suasana di sebuah ruangan kecil yang biasa disebut studio.
            Suasana hening kini menyelimuti sebuah ruangan studio yang seharusnya ramai dengan suara petikan gitar, dentuman bass dan pukulan drum. Angga menundukkan kepala dan menyesal dengan apa yang telah ia lakukan keada Munir dan Munir pun menyesali dengan ide yang tak sengaja ia sampaikan sehingga membuat kekacauan. Sebenci-bencinya Munir pada Ira,ia pun menyadari bahwa band yang sudah dua tahun berdiri ini tak akan menjadi seperti saat ini jika tanpa adanya Ira sebagai vokalis yang selalu berusaha tampil prima dan maksimal.
            Ira berhasil membuat JustWe diambang perpecahan. Ia pun berhasil selama hampir sebulan menyendiri dan Ira juga berhasil menurunkan prestasi yang selama ini ia dapatkan. Peringkat dikelas turun, peringkat parelel pun turun tiga kali lipat yang biasanya mendapatkan peringkat 5 paralel kini harus mendapat peringkat 15 pararel.
            Akhir-akhir ini Ira memang tak punya semangat belajar. Bahkan semangat berangkat sekolah pun luntur. Semanjak sepi yang melandanya tempo lalu. Ia hanya termenung dan membayangkan betapa bahagianya jika mamanya menemui dan mengajaknya jalan-jalan ke mall layaknya mama dan anak yang dilakukan orang kebanyakan.
            Bel pulang sekolah berbunyi namun Ira tak segera menuju parkiran. Ia malah menuju sebuah pohon kelengkeng di halaman sekolah yang kala itu sedang berbuah.tak banyak memang anak-anak yang menginginkan berada di bawah pohon kelengkeng yang sudah sangat tua untuk bercengkrama atau hanya sekedar duduk santai.
            “Ra,apa yang kamu lakukan di situ?”, sapa Tika yang kebetulan lewat pohon kelengkeng yang ada Ira dibawahnya termenung dengan pensil dan sebuah kertas di tangannya.
            “Aku sedang berbicara dengan seseorang yang sangat spesial.”, jawab Ira dengan sedikit senyuman yang tulus.
            Tika hanya berlalu mendengar jawaban Ira yang ngaco. Tak digubrisnya apa yang sedang Ir alakukan sebab ia juga terburu-buru akan menghadiri rapat OSIS di ruang 20. Setelah berada lima meter dari arha dimana Ira duduk,Tika baru tersadar bahwa apa yang dilakukan Ira tak masuk akal. “Gimana bisa dia berbicara dengan orang spesial sedang disekitarnya tak ada satu pun orang yang dapt ia ajak berbicara kecuali aku yang sempat mengajaknya bicara. Tapi apakah aku yang dimaksud orang spesial itu? Ah mana mungkin. Lalu siapa?”, Tika bergumam dalam hati karena baru menyadari ada yang aneh dengan Lia.
            Tika memutuskan untuk kembali dan menemui Ira yang masih termenung sambil sesekali senyum tipis di bawah pohon kelengkeng yang sangat sejuk. Ia tak menyapanya dari jauh melainkan langsung duduk di samping kanan Ira dan melihat apa sebenarnya yang Ira lakukan. Ternyata kertas yang Ira bawa berisi dialog-dialog yang cukup panjang. Antara Ira dan mama. Ya mama. Dalam kertas itu bertuliskan Ira dan mama Ira.

Ira       : “Ma Ira nemuin foto mama waktu masih seumuran Ira. Ternyata mama cantik ya? Tapi Ira tak berhasil nemuin foto mama sekarang. Kira-kira mama masih cantik nggak ya?”

 
           






Janggal. Benar-benar janggal. Kenapa Ira tak mengetahui rupa wanita yang selama ini mengasuhnya. Wanita yang rela mati hanya untk keselamatan anaknya. Aneh. Ini benar-benar aneh. Begitulah otak Tika berfikir setelah membaca dialog-dialog yang ada dalam kertas genggaman Ira.
            “Ra, memangnya mama kamu dimana? Ke luar kota ya?”, Tika memulai sebuah percakapan.
            “Mamaku jauh sekali dan aku nggak tahu dimana Beliau berada sejak aku belum mengenal kata belum.”, jawab Ira dengan tetesan air mata yang menetesi kertas yang ada di tangannya.
            “Loh kok?”, Tika terkejut, heran dan mati penasaran.
            “Aku memang tak pernah melihat wajah orangtuaku sejak aku hidup di dunia ini. Bahkan foto mereka pun aku tak punya. Huhuhuhuhuhu.”, tangisan Ira kini meledak dan airmatanya membasahi baju putih Ira.
            “Tapi dalam kertas itu kamu menulis ….”, belum sempat Tika menyelesaikan pertanyaannya karena tipe orang yang mempunyai rasa penasaran yang tinggi, Ira sudah menjawabnya.
            “Memang,sekarang aku punya fotonya tapi mugin ini sudah 20 tahun yang lalu saat mamaku duduk di bangku sekoah menengah pertama.”, seraya menyerahkan foto kusam kepda Tika.
            Ira tak mampu menahan kesedihannya. Ia meluapkan semuanya kepada Tika, salah satu teman yang ia percayai. Ira menceritakan semuanya kepada Tika,mulai dari kesepian itu,hingga kesedihan ini.
            Tika memaklumi. Ya .. Tika sangat memaklumi bila akhir-akhir ini Ira banyak menyendiri, melamun dan kadang tersenyum sendiri. Ini tekanan batin dan mungkin bila Tika yang berada dalam posisi Ira Tika sudah nekat mengakhiri hidupnya karena tak mampu mengahadapi semua ini. Namun lain dengan Ira,ia gadis kuat dan tegar, walau terkadang ia merasa tak mampu toh akhirnya ia juga mampu menahan diri unutk tidak melakukan hal ceroboh seperti Tika bila berada pada posisinya.
            “Mama kamu cantik Ra. Jangan sedih lagi ya, suatu saat kamu pasti akan bertemu Beliau. Kamu ini gadis pintar Ra,percuma jika kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan menganggurkan potensi yang kamu miliki. Bangkitlah Ra dan buktikan kepada mamamu bahwa perjuanganmu itu secantik wajah mamamu.”
            Hati Ira luluh dan memantapkan tekadnya untuk kembali menjadi anak yang produktif dengan menganggukkan kata-kata Tika seraya berkata “YA”.