Minggu, 19 Mei 2013

Sunrise (Drama)



Subuh di Pondok Pesantren Fadhlun Minallah tak pernah sepi aktivitas. Di kompleks putri hampir seluruh santri bangun sebelum ayam berkokok, namun tidak untuk Tita Adrina Zafira yang merupakan penghuni baru pesantren.

ADEGAN 1

Bantal guling telah tertata di pojok kiri, lima almari pakaian kecil berjajar di kiri kasur yang terlipat  rapi pada kamar dengan luas 4 x 3 meter. Pagi itu terdengar suara seorang santri tengah membangunkan kawan sekamarnya.

Nisfya               : “Tita ! Bangun !! Sudah adzan subuh tuh. Kapan sampeyan (kamu dalam bahasa jawa) bisa bangun tepat waktu dan nggak kena hukum dewan ketertiban pondok. Salat subuh berjamaah tu pahalanya gede banget, ingat nggak to yang dikatakan Ustad Antony kemarin. Bangun Tita !!”
Tita                    : “Hoaammm… Iya bawel ini juga udah melek tapi nyawanya belum ngumpul semua, tunggu sampai malaikat pencabut nyawa ngembalikin nyawanya dulu ya. Sepuluh menit lagi langsung salat subuh wes.”
Nisfya               : “Sampeyan ini, setiap dibangunin selalu kayak gitu alasannya. Nggak kapok apa udah dihukum tiap hari sama Mbak Romlah yang galaknya minta ampun. Nggak kapok sampeyan ! Awas saja kalau nanti dihukum, pokoknya aku nggak mau tahu yang penting kewajibanku untuk mengingatkan teman sudah gugur. Sudah nggak dosa lagi aku.”
Tita                    : “Iya..iya ini sudah bangun Nis…” (berjalan sempoyongan sambil mengulap liur di pipi)
Nisfya               : “Sampeyan ini santri baru di sini. Mbok ya jangan sering-sering bikin kerjaan dewan ketertiban sibuk mengurusi kelakuan sampeyan ini. Kebiasaan molormu di rumah tu mbok ya dihilangkan. Orang tuamu masukin sampeyan ke pondok ini ya pasti karena tingkah lakumu ini dan pasti menginginkan adanya perubahan baik pada anaknya, tapi ini anaknya kok malah tambah ndableg.”
Tita                    : “Sudahlah Nisfya cantik. Tita yang imut mau wudhu dulu terus salat subuh. Kamu duluan aja ya nanti ketingalan jamaahnya dihukum sama mbak galak tahu rasa lho hahahahaha”
Nisfya               : “Lho lho, sampeyan ini kalau dibilangin selalu saja tertawa. Kalau aku ini simbokmu sudah tak jewer sampeyan. Kalau ada yang menasihati tu ya didengerin ! Ya sudah aku ke masjid dulu tapi ingat nanti langsung nyusul ke masjid, awas kalau balik tidur lagi. Kata Mbak Opi bisa pikun kalau habis subuh balik tidur lagi ahihihi.”

Nisfya berjalan menuju masjid sedang Tita berjalan berlawanan arah menuju kamar mandi.

ADEGAN 2

Aula pondok mulai ramai sesudah adzan ‘asar. Beberapa santriwati bergegas menuju aula dengan menenteng Kamus Al-Munawwir, kitab kuning serta bolpoin digenggaman tangan.

Hani                  : “Masya allah Nis, sore ini jadwal sorogan (membaca kitab gundul dihadapan ustad/ah untuk disimak) sama mbak Zakiyah ya? Aku lupa belum ngerjain jatahku. Gimana ya? Apa aku ke POSKETREN (pos kesehatan pesantren) aja ya? Terus nanti kamu bilang Mbak Zakiyah kalau aku sakit. Gimana?”
Nisfya               : “Ndak mau ah Mbak Han, nanti aku yang dosa kalau berbohong sama Mbak Zakiyah. Takut malaikat ‘atidku melaksanakan tugas dan catatan kejelekanku bertambah. Apa sampeyan ndak takut malaikat ‘atidmu bertugas Mbak?”
Hani                  : “Sekali ini aja Nis kamu bantu aku. Aku takut disuruh berdiri di depan terus jatahku minggu depan ditambah. Mbak Zakiyah kan kejam Nis. Kamu tahu kan? Dulu aja ada santriwati dari kompleks Fatimah Az-Zahra yang belum ngerjain jatah sorogannya terus disuruh berdiri di depan dengan kamus munawwir diatas kepala. Bayangin Nis ! Kamus munawwir tu berat banget, untuk mukul maling aja pasti pingsan tu maling.”
Nisfya               : “Apa sampeyan lebih takut sama hukuman dari Mbak Zakiyah dari pada hukuman dari Allah di akhirat mbesok? Bahkan hukuman paling berat di akhirat tu kalau ujung kakimu di letakkan diatas bara api maka mendidihlah kepalamu. Ndak takut kamu Mbak Han? Mbak Zakiyah kayak gitu kan supaya para santrinya disiplin dan bertanggung jawab. Bukankah seharusnya santri yang lain bisa belajar dari hukuman yang pernah terjadi supaya tidak melakukan kesalahan yang sama? Harusnya Mbak Hani yang lebih senior dari saya lebih paham itu.”
Hani                  : “Ugh……..Ehh…….”
Nisfya               : “Kalau Mbak Hani tetap ndak mau mengakui kesalahan dan melarikan diri jangan bawa Nisfya ikut ke neraka dengan disuruh berbohong ya. Afwan, (maaf dalam bahasa arab) Nisfya duluan. Assalamu’alaikum”
Hani                  : “Wa’alaikumsalam…..”

ADEGAN 3

Suasana aula pondok semakin sunyi saat Mbak Zakiyah memasuki aula. Suara santri yang semula sahut-menyahut berlatih membaca sebaris demi sebaris kitab kuning tanpa harakat mulai melirih.

Mbak Zakiyah   : “Assalamu’alaikum...”
Santriwari          : “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Mbak Zakiyah   : “Santriwati semua. Afwan, hari ini Mbak Zakiyah nggak bisa ngajar. Jadwal sorogan diundur minggu depan. Bu Nyai masuk rumah sakit. Sekarang Mbak Zakiyah ada jadwal ngurus ndalem. Afwan nggeh. Assalamu’alaikum”
Santriwati          : “Wa’alaikumsalam…”

Hani tiba-tiba masuk dan duduk di sebelah Nisfya setelah Mbak Zakiyah pergi meninggalkan aula.

Nisfya               : “Mbak Hani jadi berangkat? Udah selesai mengerjakan jatah sorogannya?”
Hani                  : “Belum Nis. Tapi apa yang kamu katakan tadi benar juga. Aku malu sebagai senior satu tahun diatas kamu tapi malah berpikiran begitu dan putus asa dengan hukuman dunia. Maafin aku ya” (tersenyum)
Nisfya               : “Iya mbak, ndak papa namanya juga manusia tempatnya salah dan dosa. Nisfya paham itu sejak kecil Mbak. Dulu almarhumah ibuku sering bilang kayak gitu dan berpesan agar aku tidak seperti manusia pada umumnya dan seminimal mungkin menghindari dosa. Walau tak dapat dipungkiri khilaf itu pasti ada.”
Hani                  : “Eh, afwan jadi keinget ibu kamu ya. Ndak ada maksud aku.”
Nisfya               : “Ndak papa Mbak, sekarang mungkin ibuku sudah bahagia melihat anaknya masuk pesantren. Dulu ibuku punya cita-cita masukin anaknya ke pesantren tapi ayahku selalu ndak setuju. Katanya buat apa masuk pesantren, nanti dikira anaknya bodoh karena tidak bisa masuk sekolah negeri, bapak saya selalu berpikiran seorang anak yang masuk pesantren itu karena nakal atau kalau enggak ya nilainya tidak diterima di sekolah negeri.”
Hani                  : “Masyarakat awam memang selalu berpendapat seperti itu. Banyak yang mengartikan pesantren hanya untuk anak-anak urakan, padahal ndak gitu juga. Eh, tapi kenapa sekarang ayah kamu ngijinin kamu masuk pesantren ini?”
Nisfya               : “Aku juga ndak tahu pasti Mbak kenapa ayahku tiba-tiba mengijinkanku masuk pesantren. Mungkin karena kepergian ibuku ayah jadi sadar bahwa argumen mengenai pesantren yang selama ini ia pegang salah. Eh Mbak aula mulai sepi, balik ke kamar saja yuk.”

Berjalan menuju kamar mereka di kompleks Aisyah. Dalam perjalanan Nisfya melihat Tita berada di tengah lapangan di hadapan mbak Romlah.

Mbak Romlah   : “Sudah berapa kali saya bilang. Kalau santri baru itu, tiap sore ngaji pesholatan sama mbak Ummi. Bukannya makan di dapur umum. Jatah makan semua santri di dapur umum itu sama. Tiga  kali sehari, pagi, siang, malam. Apa buku panduan santri baru yang mbak berikan seminggu yang lalu tidak cukup jelas? Sekarang hukuman harus kamu terima. Push-up 20 kali. Cepat !”
Tita                    : “Tapi, siang tadi saya belum makan mbak. Lagi pula tadi setelah makan niatnya juga berangkat ngaji pesholatan. Nih kalo nggak percaya kitabnya saja sudah bawa !” (menyodorkan kitab kepada mbak Romlah).
Mbak Romlah   : “Jangan banyak alasan ! Push-up !”
Tita                    : “Fiuuuhh..sialan (mengumpat dalam hati dan segera mengambil posisi push-up)”
Mbak Romlah   : “Mulai ! Satu ! Dua ! ……”

Dengan penuh keberanian Nisfya berjalan mendekati Mbak Romlah.

Nisfya               : “Assalamu’alaikum Mbak.”
Mbak Romlah   : “Wa’alaikumsalam. Eh kamu Nisfya ya? Yang kemarin menang lomba baca kitab gundul waktu milad (hari lahir) pondok?”
Nisfya               : “Na’am (ya dalam bahasa arab). Ada waktu sebentar ndak Mbak? Ada yang mau saya bicarakan.”
Mbak Romlah   : “Soal apa ya? Bicarakan saja monggo (silahkan dalam bahasa jawa). (menatap tajam kea rah Tita) Kamu Tita, tetap lanjutkan push-up sampai genap 20 kali !”
Nisfya               : “Di kolam ikan dekat kompleks Fatimah ya Mbak bicaranya. Biar dapat inspirasi hehe.”
Mbak Romlah   : “Ndak bisa dibicarakan disini saja? Lha ini siapa yang bakal mengawasi Tita kalau saya kamu ajak bicaranya di kolam ikan?”
Nisfya               : “Sampeyan percaya saja mbak sama saya. Tita ini jujur, nggak wes kalau dia mengurangi jumlah hitugannya hehe. Mari Mbak.”

Berjalan menuju kolam ikan.

ADEGAN 4

Temaram senja di dekat kolam. Terlihat dua orang berbincang dengan asyiknya. Nisfya Aqauli Nitaqoin dengan salah seorang anggota dewan keamanan, Nur Romlah Nasihati.

Nisfya               : “Nisfya ada sedikit unek-unek Mbak. Semoga Mbak ndak keberatan mendengarkannya, syukur kalau Mbak mau menanggapinya.”
Mbak Romlah   : “Dengan senang hati mbak akan mendengarkannya. Tapi kenapa harus mbak yang dipercayai menanggapi unek-unek Nisfya? Sedikit aneh, kamu belum kenal mbak, bahkan mbak juga ndak kenal dengan kamu lebih jauh.”
Nisfya               : “Terkadang kepercayaan datangnya dari hati, tanpa harus mengenal seseorang lebih dalam jika hati yakin ya yakin.” (tersenyum meyakinkan)
Mbak Romlah   : “Iya deh iya. Sekarang unek-uneknya apa? Keburu maghrib. Nanti unek-uneknya belum kelar adzannya udah dating. Nggak asyik dong kalau harus bersambung hehe.”
Nisfya               : “Gini lho Mbak, Nisfya mau Tanya, ada nggak sih Mbak seseorang yang tercipta dengan hati baik, tulus, penuh kasih sayang namun harus dilahirkan di lingkungan yang memaksa semua sifat baik dan tulusnya tertutup dengan hati yang sejatinya bukan hatinya. Menjadi hati yang frustasi dan brontak?”
Mbak Romlah   : “Dalam Kitab Arba’in Nawawiwah kalau mbak ndak salah inget. Disebutkan bahwa takdir baik jahatnya seseorang sudah ditentukan. Jika A ditakdirkan menjadi orang baik, ya si A akan menjadi orang baik sampai akhirnya, tapi sebaliknya jika si A ditakdirkan menjadi orang jahat, ya si A akan menjadi orang jahat diakhirnya. Namun hadits ini tidak bisa dipahami apa adanya begitu saja. Allah pun befirman,  Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri merubahnya. Kita bisa mejadikan takdir kita ke golongan takdir orang baik jika kita beusaha supaya takdir itu ya takdir orang baik. Siapa yang tahu? Takdir itu kan rahasia Allah. Kita hanya bisa berusaha, dengan memperdalam ilmu, banyak beribadah, menjadikan majlis ngaji sebagai temat yang sering dikunjungi, mempertebal iman. Iya kan?”
Nisfya               : “Nah kalau soal hati yang brontak tadi Mbak? Orang itu sejatinya baik hati, namun ia dijatuhkan dalam lingkungan yang membuat hatinya brontak?”
Mbak Romlah   : “Seseorang dengan hati baik namun harus brontak karena tuntutan atau lebih tepatnya lingkungannya tidak mendukung. Begitu maksudmu?”
Nisfya               : (Mengangguk)
Mbak Romlah   : “Pertanyaanmu sulit ya Nis, mbak jawab sepengetahuan mbak ya. Mungkin beda hati beda pendapat. Jawaban pertanyaanmu ini relatif Nis. Kalau menurut mbak hal itu mungkin saja terjadi, setiap orang mempunyai nurani dan berhak membrontak jika apa yang ada dihadapannya tidak sesuai dengan nuraninya. Diilustrasikan saja, si A lahir di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman, akhirnya dia terbiasa melawan padahal sejatinya hatinya lelah dengan segala usaha melawan keadaannya itu. Dan kebiasaan itu terbawa kemana-mana bahkan saat ia menemukan lingkungan yang sejatinya baik dan pas.”
Nisfya               : “Hal itu yang terjadi pada Tita Mbak. Nisfya yakin Mbak tahu apa yang tersirat dari pembicaraan ini dan jauh lebih paham apa yang sebaiknya harus dilakukan. Assalamu’alaikum.” (pergi meninggalkan Mbak Romlah)

ADEGAN 5

Ahad subuh, ketika mentari masih malu untuk bersinar. Seluruh santri putri mulai dari kompleks Fatimah hingga Aisyah heboh dengan berita kaburnya seorang santri dari kompleks Aisyah.

Lia                     : “Rif, udah dengar kabar kaburnya santriwati dari kompleks Aisyah belum? Katanya sejak tengah malam tadi tim keamanan udah berusaha ngejar tapi tetep aja tu anak nggak bisa dikejar. Keburu kabur duluan.”
Rifa                   : “Ah masak sih ada yang berani-beraninya kabur dari wilayah penjara surga kayak gini? Peraturannya kan ketat banget. Bisa kena hukuman berat itu kalau tertangkap. Apalagi anggota dewan keamanannya galaknya jos gandhos. Njih to Mbakyu? Emangnya kabur karena opo to? Tahu ndak kamu?”
Lia                     : “Kalau denger-denger sih karena dia nggak tahan dengan semua aktivitas dan kehidupan di pesantren. Apalagi pesantren tempat kita ini, yang ketatnya minta ampun. Dan juga dia masih santri baru di sini, jadi wajar saja to.”
Rifa                   : “Owalah gitu to Mbakyu. Tapi bukankah semua peraturan pondok ini demi kebaikan santrinya ya? Supaya kita bisa jadi lebih baik. Kan tujuan orang tua kita masukin anaknya ke pondok ya supaya anaknya baik dan pintar. Terkadang suatu kebiasaan baik juga perlu pemaksaan. Enggeh to Mbakyu?”
Lia                     : “Betul itu betul. Tapi ndak semua orang mengerti teori pemaksaanmu yang dalam tanda kutip itu. Hanya manusia yang mau berpikir seperti kita ini yang dapat memahami teorimu ahihihihi. Sudahlah ndak baik ngomongin orang terus, ntar jadi menggunjing dapat dosa kita. Berangkat jamaah salat saja yuk keburu suara iqamah Ustad Somad nan merdu berkumandang.”
Rifa                   : “Siap Mbak bos. Eh Mbak tapi aku masih penasaran deh siapa ya kira-kira yang nekat dan cari perkara sama dewan keamanan dengan cara kabur dari pondok seperti itu. Nggak ada cara yang lebih menyeramkan apa ya? Atau jangan-jangan……..”

Tiba-tiba dari kejauhan nampak Muna lari tergopoh-gopoh dengan sajadah tersampir di pundak.

Muna                 : “Li, Rif. Udah denger kabar…..”
Rifa & Lia         : “Sudah mbak Muna biangnya gosip pesantren !! Kabar berita kaburnya santriwati dari kompleks Aisyah tadi malam kan?  Dan tim keamanan pondok gagal mengejarnya?”
Muna                 : “Waah kalian ini sok tahu ! Ketinggalan berita. Santrinya sudah ketangkep lagi. Semalam itu memang dia berhasil lolos melewati gerbang dan berhasil keluar sampai jalan raya, tapi sepertinya Allah tidak memberikan ijin dia untuk kabur. Secara tidak sengaja saat ia sedang menunggu bus di halte ada salah seorang anggota dewan keamanan yang baru aja turun dari bus, kalau ndak salah sih Mbak Romlah yang galaknya minta ampun itu lho dan eng ing eng… tertangkap basah deh tu maling. Eh santri deng hehe. Tapi anehnya denger-denger santrinya itu nggak dihukum berat lho. Ck ck ck (menggeleng). Tapi buat apa aku pikirin, yang penting kesimpulan pelajaran hidup yang saya dapatkan hari ini adalah niat jahat tak akan pernah diridhoi Allah subhanahu wata’ala.” (manggut-manggut)
Rifa                   : “Muna ini, sekali biang gosip ya biang gosip. Berita apa pun dari pondok walau baru sejam yang lalu pasti dia juga tahu. Apa nggak kepanasan kamu Mun tiap hari bawa berita panas melulu hahaha. Untungnya dari semua berita yang kau sampaikan selalu ada kesimpulannya. Pertahankan Nak. Doaku menyertaimu hahaha.” (tertawa lepas)
Lia                     : “Kalian ini. Sudah-sudah jangan banyak tertawa nanti hatimu keras kayak batu baru tau rasa. Itu suara merdu Ustad Somad sudah terdengar. Segera berangkat salat atau mau menjemput ajal tertangkap dewan keamanan. Ayo cepat !”

Mereka segera menuju masjid Al-Uswah Pondok Pesantren Fadhlun Minallah. Jaraknya yang lumayan jauh dari kompleks Fatimah membuat mereka harus berlari-lari kecil dan terengah-engah.

ADEGAN 6

Pondok mendadak sepi ketika libur usai imtihan tiba. Hanya nampak beberapa santri yang tidak memutuskan pulang kampung dan menghabiskan masa liburannya di pondok. Di bawah tiang jemuran terlihat Tita sedang termenung memandang kelabunya langit sore itu.

Tita                    : “Kenapa mesti kehidupan seperti ini yang aku jalani. Kenapa ayah bunda tega memasukkanku dalam penjara yang katanya menyenangkan, mendamaikan, membahagiakan. Ah omong kosong! Aku nggak nyaman dengan peraturan yang memaksa bangun pagi, baca tulisan arab yang nggak ada harakatnya. Dapat jadwal masak tiap minggu, nggak boleh keluar nonton, hang out, ke mall, dan ke panti itu. Ya tuhan gimana kabar anak-anak anak manis dan malang itu. Ah tapi setidaknya mereka sedikit beruntung tidak mempunyai orang tua yang memaksa kebebesan anaknya dan mereka…..”

Belum selesai Tita bermonolog, Nisfya yang juga memutuskan untuk menghabiskan masa liburan usai imtihannya dengan tetap tinggal di pondok, berjalan diam-diam mendekati Tita.

Nisfya               : (mengagetkan Tita) “Daaa !!!! Assalamu’alaikum Tita hehehe. Sampeyan mau kopi hangat ndak?”
Tita                    : “Wa’alaikumsalam, kamu to Nis. Wah asik ! cuaca mendung kayak gini emang cocok kalau minum kopi hangat. Makasih lho ya. Eh iya, kamu nggak jadi pulangkah Nisfya? Kangen rumah lho nanti?” (dengan wajah seperti tak ada masalah dan beban, berusaha ceria dan menggoda Nisfya)
Nisfya               : “Sama-sama. Ndak jadi Ta, sepertinya menghabiskan waktu di pondok selama liburan juga menyenangkan. Lagi pula dari tahun-tahun kemarin tiap liburan sudah pulang. Cari suasana liburan yang beda aja hehe. Sampeyan tadi lagi ngapain to? Kelihatannya sedang berbicara sama langit. Memangnya langit bisa mendengar ya Ta? Kenapa ndak bicara sama aku aja to kalau ada sesuatu, jelas-jelas pendengaranku ini jauh lebih baik dan langit.”
Tita                    : “Kamu ini malah ngelucu Nis. Nggak lucu tauk ! Huhh aku lagi bosen aja Nis, aku merasa nggak bahagia dengan semua yang ada di pondok, aku ngak suka dengan aktivitas yang serba memaksa dan nggak sesuai kehendakku. Paling nggak suka diatur-atur. Kenapa mesti ada yang namanya peraturan sedang orang nggak nyaman dengan peraturan itu? Bukankah setiap manusia memiliki haknya masing-masing untuk melakukan aktivitas, kegiatan, bahkan rutinitas dalam hidupnya?”
Nisfya               : “Tita, nggak semua bahagia itu kita dapatkan karena semua kegiatan dan aktivitasnya sesuai dengan kehendak kita. Terkadang sebuah peraturan itu penting juga dalam hidup ini. Simpelnya, bayangin aja kalau diperempatan jalan raya yang gede itu ndak ada peraturan kalau lampu merah behenti, lampu hijau jalan, dan kuning hati-hati, apa yang akan terjadi? Semrawut dan mungkin akan banyak korban. Berlaku juga buat kehidupan yang luas ini Ta. Sebuah pemaksaan pun kadang diperlukan. Sekarang bayangin aja kamu berada di jaman ketika listrik belum ada. Mereka harus memaksakan diri untuk tetap hangat ketika dingin melanda dan akhirnya mereka terbiasa dengan dingin itu dan dingin yang selama ini dingin tak akan terasa dingin karena terkadang suatu paksaan akan menjadikan kebiasaan. Berpikirlah Ta, maka Sampeyan bakal memperoleh jawaban.”
Tita                    : (melongo)
Nisfya               : “Adzan maghrib. Salat dulu yuk.” (mengulurkan tangan membantu Tita bangun dari tempat ia duduk)

ADEGAN 7

Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Di pojok kanan kamar RT 04 Pondok Pesantren Fadhlun Minallah kompleks Aisyah, Tita Adrina Zafira tersenyum bahagia saat mendapati teman sekamarnya masih terlelap dalam indahnya mimpi.

Tita                    : “Nisfya !! Bangun !! Masak yang biasanya ngebangunin aku sekarang belum bangun. Malu ah hahaha.”
Nisfya               : “Sampeyan Tita? Tita Adrina Zafira? (berbicara setengah sadar). Hahh ? beneran Tita? Sudah bangun sampeyan? Sejak kapan sampeyan bangun sebelum ayam berkokok?”
Tita                    : “Pokoknya sekarang ayo bangun, salat tahajud dan segera jamaah subuh di masjid. Oke Bu bos?”
Nisfya               : “Alhamdulillah Ya Allah, segala puji bagiMu (berkata dalam hati). Siap. Laksanakan ! Hehe.”
Tita                    : “Sesudah salat subuh dan tadarus temani liat sunrise ya? Mau nggak mau pokoknya harus mau. Titik. Jumat kan sekolah libur.”
Nisfya               : “Iya deh. Apa sih yang enggak buat Tita cantik. Hahaha.” (tertawa lepas)
Tita                    : “Belajar jawab lebay dari siapa kamu? Hahaha.”
Nisfya               : “Dari sampeyan Mbak Tita, siapa lagi?”
Tita                    : “Sudahlah. Wudhu dulu sana. Aku salat tahajud duluan. Lama sih kamunya.” (takbiratul ihram memulai salat)

Adzan subuh berkumandang. Bergegas Tita menenteng sajadah hijau pemberian neneknya ketika sebelum berangkat menuju  pesantren. Berjalan dengan hati riang dengan senyum penuh harapan.


ADEGAN 8

Di atas bukit belakang pondok duduk dua santri masih lengkap dengan mukena melekat pada tubuh dan sajadah di genggamannya. Suara ayam berkokok pagi itu menambah suasana lebih membahagiakan.

Tita                    : “Tahu nggak alasan aku mengajakmu melihat sunrise pagi ini?”
Nisfya               : (menggeleng)
Tita                    : “Dulu di bawah tiang jemuran ketika sang mentari beranjak tenggelam dan aku dalam ambang keputuaasaan. Saat itu kau banyak membuatku berpikir dan memahami semua perkataanmu yang menurutku benar juga. Dan kali ini aku mau sang mentari pagi menjadi saksi kemenanganku atas penemuan diriku yang selama ini hilang. Kamu pula yang akan menjadi saksi bahwa mulai saat ini Tita Adrina Zafira akan memulai hidup baru seperti matahari. Terbit membawa kebahagiaan dan tenggelam penuh dengan keindahan. Aku ingin menjadi orang yang berguna seperti layaknya mentari, sepanjang hari selama sinarnya bersinar ia selalu memberi manfaat bagi makhluk hidup. Dan aku akan menjadikan jasaku bermanfaat seperti mentari dengan membangun PAUD islam bebasis pesantrean kelak setelah lulus dari pesantren ini. Doakan aku Nisfya. Dan terimakasih sudah mengembalikan hati tentram yang selama ini tersembunyi.”
Nisfya               : (tersenyum bahagia) “Amin dan kembali kasih Tita.”

-TAMAT-