Rabu, 08 Mei 2013

Perahu Kertas (#uswa)


Selamat sore reader, postingan saya kali bertemakan uswa dan kesedihan uswa serta cara uswa melampiaskan sedihnya itu *ihh

Biasanya aku tu kalo lagi sedih atau senang atau bagaimana perasaannya sukanya nulis, hal itu dimulai sejak usia dini. Aku inget pertama punya diary tu waktu SD, oh iya aku pernah buat sebuah lagu lho dalam diary itu, kalo nggak salah inget tu judulnya “indah pemandangan alam” ini nih lirik yang masih ada dalam ingatan sayaa....

Indah indah pemandangan alam..
Indah indah pemandangan alam
Indah indah pemandangan bulan dan bintang...
Pemandangan alam itu indah karena..... *tetot  habis lirik ini saya lupa*

Dengan nada dan not  yang tak begitu indah padahal judul lagunya indah hahaha, ternyata bakat juga ya jadi sebuah pencipta lagu ahihihihi *narsis dikit*

Setelah sekaian lama diary itu menghilang, suatu saat waktu beres-beres kamar yang sudah tak layak huni namun tetap saja saya menjadi penghuni setia karna hanya punya satu kamar di rumah yang khusus untuk saya dan nggak ada alasan untuk tak menempati kamar itu. Di bawah baju-baju yang udah lama nggak saya pake nemu juga buku harian yang udah dari jaman purba kali ya... buku merah bersampul gambar kartun ‘spiderman’ dan sampe sekarang aku nggak tahu kenapa mesti gambar spiderman coba, apa alasannya seorang cewek atau lebih tepatnya anak perempuan yang belum cukup umur punya diary dengan sampul nggak masuk akal dan lebih cenderung kepada buku anak laki-laki yang belum cukup umur haha. Bingung juga, tapi nggak pentimg juga sih mikirin alasan kenapa pake buku itu yang setelah aku coba cari lagi bukunya udah nggak ada lagi wkwkw dasar uswa --“

Setelah diatas ngomongin hal yang nggak jelas gitu mending kita langsung bahas kepada sebuah tulisan dan uswa yang suka nulis-nulis nggak jelas gini.

Menurutku menulis itu bukan hal yang mudah lho guys, soalnya bahasa tulisan itu malah kadang sulit dipahami, contohnya aja nulis “makan” sama “makan !” artinya udah beda.  Makan yang nggak pake tanda seru itu bisa berarti kata kerja atau kata benda jikalau ngak disertakan objek/subjeknya *heleh* atau kata apalah gitu, tapi kalo makan yang pake tanda seru itu artinya bisa menyuruh makan dengan nada kasar. Beda kan guys, so bahasa tulisan itu lebih sulit dipahami daripada bahasa yang diucapkan. Apalagi kalo yang ditulis itu tulisan puitis, beeee lebih sulit lagi itu *kalian juga paham kalo itu ya ahihihi*
Walaupun nulis itu sulut tapi aku lebih suka nulis kalo mengungkapkan sebuah perasaan, meluapkan sebuah emosi walau kadang nggak cukup sih kalo cuma nulis aja tapi bagiku menulis itu bisa mengurangi rasa bosan dan ada kepuasan tersendirilah.

Air. Setelah banyak ngomingin nulis dan menulis sekarang aku mau ngajak kalian ke duniaku yang lain, yakni air. Entah kenapa juga uswa kok dolahirin aneh gini, masih gede masih aja suka mainan air, betah deh kalo suruh mainan sama air, suruh hujan-hujanan juga seneng banget, anak kecil banget kan. Ah tapi it’s not a big problem, yang penting seneng :p

Karena saya itu suka banget kalo sama air apalagi sama sungai dan pantai. Walau nggak tiap hari tiap pekan tiap bulan ke sungai dan ke pantai juga, tapi kalo udah ada di pantai rasanya tu seneng banget, suara ombaknya yang damai, airnya yang banyaak dan warna biru yang menjulang begitu indahnya. Subhanallah banget deh :) dan ternyata pantai membawa kenangan tersendiri untuk saat ini *eh. Dan kalo untuk sungai yang aku suka dari sungai tu kalo sungai yang mengalir dan nggak begitu dalam. Jadi sungai yang dangkal tapi ada sebuah aliran yang mendamaikan hati. Dan bagiku sungai itu mampu membawa pergi semua yang nggak diinginkan. Karena apa? Akan saya kupas nanti dibawah...

Udah tahu kan sekarang kalo uswa tu suka air, hujan, dan nulis. Yang kalian belum tahu adalah soal perahu kertas. Uswa dari dulu hobi lho buat perahu kertas kalo pas lagi hujan...

Dulu ketika hujan belakang rumahku kalo hujan tiba dan deras sekali tu ada danau kaget *dadakan maksudnya* dan bagus banget kalo untuk melayarkan sebuah perahu, perahu kertas lebih tepatnya. Waktu aku masih kecil, kalo hujan dan agak banjir gitu didepan dan belakang rumah aku dan adekku (Ja’far Shodiq) suka banget kalo suruh buat perahu kertas dan dilayarkan bersama. Kalo nggak dilayarkan didepan rumah ya di danau dadakan itu.

Tuntas sudah pengantar bahasan yang bersangkutan dengan judul postingan saya kali ini. About air, sungai, pantai, nulis, melampiaskan sebuah perasaan, dan perahu kertas.
Kini saatnya ke bahasan inti “PERAHU KERTAS (#USWA)”

Perahu kertas (#uswa) ini terinspirasi oleh sebuah film dengan judul sama (tanpa #uswa tentunya hehe). Yaa dalam cerita itu si cewek suka banget nulis surat kepada Neptunus yang akhirnya surat itu dibuat perahu kertas dan dilayarkan.

Sejak nonton film itu saya jadi menemukan cara lain unutk melampiaskan bahkan mengungkapkan semua perasaan yang ada dalam sebuah kertas yang nantinya akan berwujud perahu kertas... kenapa bisa seperti itu? Seperti yang sudah diuraikan diatas, aku tu suka nulis, suka air, pantai, sungai, hujan, buat perahu kertas dan melayarkannya dengan alasan nggak jelas awalnya. Namun kini sedikit menemukan alasan untuk saya lakukan lagi hobi gila itu.

Perahu kertas #1 tertanggl 24 Februari 2013
Ini ada hubungannya sama postingan saya "A Thousand Years" A Thousand Feel (silahkan baca bagi yang belum baca) dan sepertinya tidak perlu saya ulangi lagi bagaimana ceritanya. Initinya dalam perahu kertas #1 kali ini bahwa uswa mengungkapkan sebuah perasaan secara terang-terangan untuk pertama kalinya. Wooow deg-degannya nggak berhenti-henti bung.