Kamis, 01 Agustus 2013

Cerita Mutiara

"Menemukan mutiara di toko perhiasaan itu hal biasa, akan luar biasa jika menemukan mutiara di kubangan air limbah"

Kata-kata sebagai pembuka pagi ini di status facebook saya. Sebenarnya kata-kata itu udah lama banget aku pegang dan aku camkan dalam hati. Ini menyangkut salah satu temen yang notabene bukan seorang yang 'alim tapi amat sangat luar biasa bagiku. Sebut saja dia Paijo.

Sebelum masuk pada inti dari kata-kata itu saya mau menceritakan cerita fiksi menyangkut hal tersebut.

Dulu di sebuah desa yang terdiri dari Toko Perhiasan nan megah dan sebuah pabrik yang menghasilkan kubangan air limbah amat menjijikkan tinggallah dua orang yang bernama Besi dan Ferrum. Dua orang ini tinggal berseberangan, si Besi tinggal di air limbah dari pabrik yang kotor, bau dan amat menjijikkan sedangkan Ferrum tinggal di Toko Perhiasan yang bersih dan wangi. Sutu saat si Besi main ke tempat Ferrum dan cerita banyak mengenai tempat tinggalnyayang kumuh dan sangat kootr. Ferrum mendengarkan dengan pura-pura prihatin namun senyumnya tak dapat menipu bahwa dalam hati dia berkata "salah sendiri nggak mau pindah ke lingkungan yang bersih dan nyaman....." belum berakhir kata-kata yang diucapnya dalam hati, tiba-tiba Ferrum berkata agak keras 

"...Tapi aku heran deh sama kamu, kok kamu nggak karatan dengan lingkungan yang buruk dan kotor seperti itu?"

"Yaa.. mungkin karena aku punya iman yang akan menjagaku tetap mengkilat dan tidak berkarat. Aku tidak terpengaruh dengan lingkungan yang kotor dan buruk Eh..maukah kau mengunjungi tempatku dilain waktu?"

Keesokan harinya si Ferrum yang bersih dan terbiasa dengan lingkungan bersih serta nyaman berkunjung di tempat Besi yang kotor, bau dan menjijikkan. Setelah lama membicarakan lingkungannya yang bersih dan sedikit tersirat rasa sombong dalam ceritanya Ferrum pamit untuk pulang.

2 harikemudian Ferrum terpengaruh lingkungan si Besi. Mungkin besi tidak punya cukup iman untuk tidak terpengaruh lingkungan buruk dan kotor tempat Besi berasa. End

Ada yang bisa mengambil kesimpulan dari ceruta fiksi saya diatas?
Yaudah deh saya jelasin aja :)
Jadi gini lho si Besi itu ibarat orang yang tinggal di lingkungan kotor, anak mudanya maksiat, judi, kawan-kawannya mabuk-mabukan, madon dlsb. Namun iman orang tersebut cukup kuat untuk tidak terpengaruh lingkungan yang seperti itu. Dan mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal itu dan mampu mengambil pelajaran dari kejadian dilingkungannya sehingga dia pandai untuk beradaptasi. Sebaliknya si Ferrum itu ibarat orang yang terbiasa dengan lingkungan yang bersih dan nyaman. Anak mudanya senang mengaji, rajin berjama'ah, kawan-kawannya rajin sembahyang, penghafal al-Qur'an dlsb. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan lingkungan yang baik dan amat baik, namun kurang imannya dan kurang terbiasa menghadapi lingkungan yang notabene kotor dan buruk, tak bisa beradaptasi dengan benar dan akhirnya berkarat.

Fiksi saya diatas terinspirasi oleh salah satu teman saya, Paijo yang saat ini sedang menghafal QS. Al-Baqarah sudah sampai ayat ke 29. Semoga lancar dan selalu mendapat kemudahan dalam hafalannya. Jadilah Hafidz dan kelak jadilah imam yang baik untuk istrimu serta ayah teladan bagi anakmu. Amin

Karena nama besi ataupun Ferrum tidak cocok dan kurang indah untuk dirangkai menjadi kata-kata maka saya subtitusikan menjadi mutiara. Dan mutiara yang luar biasa itu adalah kamu, Paijo.

Dari tanggal 1 Agustus dan baru bisa saya selesaikan
dini hari 2 Agustus 2013 :)